in

Memaknai Hakikat Peristiwa Nabi Ibrahim Menyembelih Nabi Ismail

Memaknai Hakikat Peristiwa Nabi Ibrahim Menyembelih Nabi Ismail

Idul Adha adalah salah satu hari raya umat Islam. Hari raya ini untuk memperingati peristiwa ketika Nabi Ibrahim bersedia untuk menyembelih putra kesayangannya, Nabi Ismail atas perintah Allah SWT. Seperti yang kita ketahui, Allah mengganti Nabi Ismail dengan domba, sehingga yang disembelih bukan Nabi Ismail, melainkan seekor domba.

Apa makna di balik kisah ini dan kenapa Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk menyembelih putranya sendiri? Di balik peristiwa paling bersejarah yang dikenal semua agama samawi ini, baik itu Islam, Yahudi ataupun Kristen, terdapat hakikat dan pelajaran berharga yang bisa kita ambil.

Sebelum mengetahui apa hakikatnya, sekilas kita akan bahas terlebih dahulu sejarah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Nabi Ibrahim dikenal sebagai bapak tauhid karena beliau yang paling tegas dalam menegakan ajaran bahwa Allah itu adalah Tuhan satu-satunya, tidak ada sekutu bagi-Nya dan tidak ada yang mampu menyetarai-Nya.

loading...

Salah satu mukjizat Nabi Ibrahim yang paling dikenal yaitu ketika beliau selamat dari api Raja Namrud. Allah menundukan api untuk Nabi Ibrahim ketika itu. Bukannya terbakar, Nabi Ibrahim malah keluar dengan kondisi menggigil kedinginan.

Nabi Ibrahim menikah dengan Sara, namun mereka tak kunjung dapat keturunan. Beliau pun berdoa kepada Allah agar diberi keturunan dan juga berdoa agar para nabi yang akan datang berasal dari keturunannya.

Sadar tidak bisa punya anak, Sara pun menyuruh suaminya untuk menikahi pembantunya yang bernama Hajar. Dari Hajar, Nabi Ibrahim memiliki keturunan laki-laki yang pintar dan cakap. Dia adalah Ismail yang kelak akan jadi Nabi.

Baca Juga: Kisah Semut Membawa Setetes Air Untuk Memadamkan Api Yang Membakar Nabi Ibrahim

Ketika Ismail masih kecil, Allah menurunkan wahyu kepada Nabi Ibrahim untuk membawa istrinya, Hajar dan putranya ke daerah yang sangat tandus. Daerah tersebut merupakan sebuah lembah yang sunyi, tidak ada air dan tidak ada seorangpun tinggal di sana. Kalau sekarang, lembah tersebut terletak di antara bukit Shofa dan Marwah di Mekah.

Bayangkan saja, Hajar dan putrnya yang masih kecil ditinggalkan sendirian di tempat berbahaya seperti itu. Walau berat harus meninggalkan istri dan putra satu-satunya, tapi mau tak mau Nabi Ibrahim harus melakukannya karena itu sudah jadi peritah Allah.

Ketika Ibrahim meninggalkannya, Hajar berlari dari bukit Shofa ke bukit Marwah sebanyak tujuh kali untuk mencari pertolongan dari orang lain. Sementara itu, Ismail yang masih kecil terlihat tak berdaya karena kehausan. Di tengah-tengah kegelisahan Hajar, Allah menunjukkan kebesaran-Nya dengan mengeluarkan sumber air dari bawah kaki Ismail. Air itulah yang disebut Air Zam-Zam.

Setelah Nabi Ismail dewasa, turun kembali wahyu yang amat berat diterima oleh Nabi Ibrahim. Melalui mimpi, Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk mendatangi putranya kemudian menyembelihnya. Nabi Ibrahim sempat sedih bagaimana ia bisa menyembelih putra satu-satunya yang sangat ia sayangi. Namun karena cintanya pada Allah lebih besar, Nabi Ibrahim bersedia untuk menyembelih Nabi Ismail.

Ketika Nabi Ismail diberitahu ayahnya bahwa dia harus disembelih karena perintah Allah, dengan lapang dada Nabi Ismail menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah kamu akan mendapatku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS: As-Saffat ayat 102).

Nabi Ibrahim pun kemudian menunaikan perintah Allah dan bersiap menyembelih putra kesayangannya. Karena Allah melihat kesabaran dan keikhlasan keduanya, Allah menurunkan wahyu kepada Nabi Ibrahim.

“Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis. Dan Kami panggillah dia: ‘Hai Ibrahim sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikian Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” (QS: As-Shaffat ayat 103-107).

Allah telah mengganti Nabi Ismail dengan seekor domba untuk disembelih. Ini adalah ujian dari Allah untuk menguji kesabaran dan keikhlasan keduanya.

Apa hakikat dari peristiwa ini?

Memaknai Hakikat Peristiwa Nabi Ibrahim Menyembelih Nabi Ismail

Allah menyuruh Nabi Ibrahim untuk menyembelih putranya sebagai ujian apakah dia bersedia mengurbankan sesuatu yang paling dicintainya di jalan Allah atau tidak. Pada waktu itu sesuatu yang paling dicintai Nabi Ibrahim adalah putranya, Nabi Ismail.

Setan berusaha sekuat tenaga untuk mencegah Nabi Ibrahim menyembelih putranya. Setan berkata kepada Nabi Ibrahim apakah engkau tega membunuh anak kamu satu-satunya yang paling kamu sayangi. Namun Nabi Ibrahim menghiraukan omongan setan dengan meleparkan batu kepadanya.

Nabi Ibrahim lolos dalam ujian tersebut dan beliau bersedia mengurbankan apa yang paling dicintainya di jalan Allah dengan penuh kesabaran dan keikhlasan. Karena Nabi Ibrahim mengkhilaskan putranya sepenuh hati, Allah pun mengembalikan kembali Nabi Ismail kepadanya.

Baca Juga: Terkuak, Ini Alasan Air Sumur Zamzam Tidak Pernah Hab

Nabi Ibrahim telah membuktikan bahwa rasa cintanya pada Allah masih jauh lebih besar ketimbang rasa cintanya pada putranya.

Pada hakikatnya, kurban adalah mengurbankan segala sesuatu yang paling kita cintai di jalan Allah dan hanya semata-mata untuk mendapatkan ridho-Nya. Apa sesuatu yang paling dicintai rata-rata manusia di dunia ini? Yaitu harta benda.

Banyak manusia yang melalaikan perintah Allah hanya demi harta dan benda. Tak hanya orang kafir, orang Muslim saja sebagian besarnya terlalu amat mencintai dunia ini ketimbang mencintai Allah.

Mengurbankan hewan di Idul Adha adalah satu simbol bahwa kita bersedia mengurbankan apa yang kita cintai di jalan Allah. Karena hewan kurban itu harus dibeli dengan harta, sesuatu yang paling kita cinta.

Zakat, infaq dan shodaqoh juga merupakan bentuk kurban. Jika kita melalaikannya, berarti kita membangkang perintah Allah.

Contoh lainnya yaitu mengurbankan sebagian waktu untuk beribadah kepada-Nya. Di sela-sela kesibukan dunia, kita harus bisa mengurbankan sebagian waktu untuk beribadah, sholat lima waktu dan sholat tahajud adalah salah satunya.

Dan yang terpenting dari makana kurban ini, kita jangan terlalu mencintai dunia ini ketimbang mencintai Allah. Jangan takut mengurbankan harta, waktu dan tenaga di jalan Allah. Jangan takut miskin karena Allah pasti akan mengembalikannya, seperti dikembalikannya Nabi Ismail kepada Nabi Ibrahim.

Begitulah kira-kira makna dari peristiwa Nabi Ibrahim mengurbankan Nabi Ismail. Segala kesalahan dan kekurangannya, mohon dimaklum!

loading...
Loading...
Loading...