in

Mau Terus-Terusan Membaca Al-Quran, Kapan Diamalkannya?

Mau Terus-Terusan Membaca Al-Quran, Kapan Diamalkannya?
Foto: aboutislam.net

Al-Quran adalah kitab suci yang berguna sebagai pedoman dan petunjuk bagi seluruh umat Muslim yang beriman. Sudah jadi kewajiban setiap Muslim untuk membaca dan memahami isi Al-Quran agar terhindar dari perbuatan dosa.

Yang jadi pertanyaan, apakah cukup Al-Quran itu hanya dibaca saja? Jawabannya jelas tidak. Sebagai pedoman, tentu kita semua harus memahami arti setiap ayat Al-Quran yang ditulis dalam bahasa Arab.

Terlebih lagi ayat-ayat Al-Quran tidak bisa sembarang diartikan. Perlu penafsiran yang luas untuk memaknai arti yang sebenarnya. Namun kali ini bukan soal tafsir Al-Quran yang akan dibahas, tapi tentang pengamalan Al-Quran dalam kehidupan nyata.

Jika kita perhatikan, sebagian besar isi Al-Quran itu berupa perintah yang harus dilaksanakan dan larangan yang harus dijauhi. Namun masih banyak umat Muslim yang merasa kalau Al-Quran itu cukup dibaca saja tanpa mengetahui apa sebenarnya arti dari ayat yang dibacanya.

Al-Quran itu harus diamalkan yang berwujud akhlak mulia dalam kehidupan nyata. Jika kita tidak mengetahui apa makna dari masing-masing ayat, bagaimana kita mau mengamalkannya?

Ilustrasinya begini, anggap saja Anda adalah seorang mahasiswa pertanian. Suatu ketika, dosen memberikan tugas kepada Anda untuk menanam pohon pisang. Karena Anda tidak tahu bagaimana cara menanam pohon pisang, dosen itu memberikan Anda buku panduan tata cara menanam pohon pisang. Kemudian dosen itu memberikan jangka waktu kepada Anda untuk menyelesaikan tugas ini.

Anggap saja Anda hanya membaca dan menghafal isi buku panduan itu, tapi Anda sama sekali tidak mempraktikan tata cara menanam pohon pisang. Ketika jangka waktu habis, dosen itu datang kepada Anda untuk menanyakan hasil pekerjaan Anda.

Dosen: “Apakah kamu sudah membaca buku panduan itu?”

Anda: “Sudah pak, saya baca dari awal sampai akhir dan bahkan saya hafalkan semuanya. Saya tahu betul seluk beluk cara menanam pohon pisang!”

Dosen: “Bagus, sekarang mana pohon pisang hasil cocok tanam kamu?”

Anda: “Belum ada pak, karena saya cuma membaca dan menghafal bukunya saja.”

Dosen: “Apakah kamu sudah gila? Aku ini menyuruh kamu untuk menanam pohon pisang, tapi kamu malah membaca dan menghafalkannya saja, dan kamu seolah-olah mau mengajari saya cara menanam pisang padahal saya ini ahlinya dan orang yang membuat dan memberikan buku panduan itu.”

Karena Anda hanya membaca buku panduan itu saja tapi tidak mau mengeluarkan keringat untuk menanam pohon pisang, apakah Anda bisa menikmati buah pisang? Meskipun Anda membaca buku itu sebanyak ribuan, jutaan atau miliaran kali, tapi tetap tidak mau menanam pohon pisang, sampai kapanpun Anda tidak akan bisa menikmati hasilnya berupa buah pisang.

Baca Juga: Kenapa Al-Quran Menggunakan Bahasa Arab?

Dari ilustrasi percakapan di atas, kita alihkan fungsi bahasanya dan anggap kalau buku panduan itu adalah Al-Quran, dan pohon pisang sebagai amal sholeh, dan dosen yang memberikan buku panduan itu adalah Tuhan.

Allah menurunkan Al-Quran agar manusia mau ‘berkeringat’ untuk mengerjakan amal sholeh dengan tata cara yang diridhoi oleh Allah. Tapi jika manusia hanya membaca dan menghafalnya saja, tapi praktika di kehidupan nyata sangat minim atau bahkan bertentangan dengan Al-Quran, apakah orang tersebut akan mendapatkan amal sholeh?

Membaca Al-Quran itu sangat bagus, malah lebih bagus lagi dari membaca buku apapun. Tapi alangkah baiknya kita memahami makna ayat-ayat Al-Quran dan mau mengamalkan apa yang diperintahkan dalam Al-Quran. Jangan sampai kita rajin membaca Al-Quran, tapi akhlak di kehidupan nyata banyak yang bertentangan karena ketidakpahaman kita.

Bila kita praktikan dalam kehidupan nyata walau hanya satu ayat, susahnya luar biasa.

Loading...
Loading...