in

Bukan Banyak Uang, Hati Akan Tenang Hanya dengan Mengingat Allah

Bukan Banyak Uang, Hati Akan Tenang Hanya dengan Mengingat Allah

Uang adalah segalanya, uang adalah penguasa, tanpa uang kita tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan banyak yang berpikir kalau uang adalah sumber kesenangan dan ketenangan, tanpa memiliki uang kita tidak akan mungkin mendapatkan semua itu.

Begitulah sedikit gambaran tentang uang yang banyak diperebutkan orang, termasuk diriku yang juga berpikir demikian. Kalau banyak uang, aku bisa membeli apapun yang diinginkan, pergi ke manapun, dan kupikir hidupku akan tenang, tidak dihantui rasa takut akan kekurangan.

Kerja banting tulang siang dan malam, lelah kuhiraukan, ibadah kutinggalkan, semua itu dilakukan demi mendapatkan setumpukan kertas. Karena aku yakin kalau banyak uang hidupku akan semakin senang dan tenang.

loading...

Hingga akhirnya Tuhan mengabulkan apa yang kuinginkan. Aku pun heran, padahal aku banyak meninggalkan ibadah, berdoa pun tidak, tapi kenapa Tuhan memberikanku harta yang melimpah.

Perusahanku yang tadinya kecil dan hanya berjumlah satu, sekarang sudah berkembang besar dan memiliki cabang di mana-mana. Otomatis pendapatanku semakin besar pula. Bisa dikatakan aku mampu membeli mobil Alphard setipa bulan.

Baca Juga: Ketika Artis Buktikan Ketenaran Dan Kekayaan Tidak Menjamin Kehidupan Tenang

Dengan uang yang banyak, kemudian aku mewujudkan angan-anganku dulu satu demi satu. Aku ingin punya rumah besar, sekarang punya, ingin mobil mewah, sekarang punya, dan pokoknya aku membeli apapun yang kuiingikan.

Dulu aku berpikir kalau bisa mewujudkan semua angan-angan itu, maka hidupku akan tenang dan senang, dulu aku juga berpikir jika banyak uang aku tidak akan dihantui rasa takut akan kekurangan.

Namun kenyataannya tidak sesuai yang kuharapkan. Hidupku malah semakin gak tenang dan jauh dari kesenangan yang hakiki karena setiap hari aku sibuk bekerja, memantau semua perusahanku, belum lagi harus menghadapi banyak masalah.

Hal itu membuatku sangat lelah, padahal aku tidak bekerja memakai otot seperti kuli bangunan. Tapi entah kenapa aku merasa yang paling lelah, terutama pikiran dan hatiku.

Dengan banyak uang, rasa takut yang kupikir akan lenyap malah semakin besar. Rasa takut akan omset perusahaan turun, takut jika muncul saingan, takut jika ada karyawan yang berlaku curang dan pokoknya hatiku dihantui oleh rasa takut akan kehilangan dan kekurangan.

Lucunya, kupikir kalau banyak uang aku tidak akan pernah merasa kekurangan, namun kenyataannya aku tetap merasa kurang dan semakin kurang. Penghasilan sudah puluhan juta, masih kurang dan ingin naik jadi ratusan juta. Ketika penghasilan ratusan juta, masih saja tetap kurang dan ingin naik jadi miliaran, setelah penghasilan miliaran, masih kurang juga dan ingin triliunan.

Setelah triliunan, masih kurang juga dan ingin terus meningkatkan pendapatan sampai akhirnya berangan-angan membeli seluruh dunia ini. Saking risaunya hatiku ditambah rasa kekurangan dalam diriku, senyum pun sulit kumunculkan di wajahku.

Saking sibuknya mencari kekayaan, hingga tak terasa waktu telah berlalu, rambutku mulai memutih, fisiku mulai melemah dan penyakit mulai menyerangku. Hingga akhirnya dokter memvonisku menderita kanker leukimia.

Karena penyakit itu, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Makan pun terasa tidak enak, berjalan harus naik kursi roda, tubuhku mudah lelah dan sedikit-dikit aku hanya bisa membaringkan tubuhku di atas kasur.

Aku bilang kepada dokter, “Tolong sembuhkan aku, akan ku bayar berapapun asalkan aku bisa kembali merasakan nikmatnya makan, nikmatnya berjalan, nikmatnya sehat.”

Kemudian kulihat raut wajah dokter itu, dan ia hanya bisa tersenyum sambil memegang tanganku dan berkata, “Yang sabar, semua ini sudah jadi takdir Yang Maha Kuasa, cobaan ini adalah kasih sayang Allah untuk bapak agar tidak menyia-nyiakan waktu yang tersisa karena pada akhirnya kita akan menghadap kepada-Nya, baik yang sehat atau sakit dulu.”

Mendengar perkataan dokter itu, seketika hatiku gemetar, aku sadar uang banyak yang kumliki tidak bisa mengembalikan sehat dan usiaku. Aku juga sadar hari demi hari aku kian mendekati ajalku. Uang yang kumliki tidak bisa menghentikan semua itu.

Mata hatiku jadi terbuka berkat penyakit ini. Penyakit ini adalah kasih sayang Allah kepadaku. Aku pun memutuskan untuk bertaubat dan meninggalkan semua urusan duniaku. Aku ingin memanfaatkan umurku yang tersisa untuk beribadah karena dulu aku selalu meninggalkannya.

Demi menebus semua dosa-dosaku, kusumbangkan semua hartaku yang tersisa kepada orang-orang miskin. Hingga akhirnya kehidupanku yang bergelimang harta kembali ke awal mula yang tidak punya apa-apa.

Baca Juga: Jika Dimaknai, Dahsyatnya Doa Duduk di Antara Dua Sujud Bisa Menggetarkan Hati

Aku tidak tahu apakah semua itu bisa mengampuni semua dosaku, aku malah merasa tidak pantas mendapatkan ampunan-Nya. Namun entah kenapa, dalam hatiku yang ada hanyalah mengingat-Nya, tidak ada sedikitpun aku memikirkan urusan dunia dan penyakitku. Hatiku merasa tenang dan serba cukup meskipun aku kembali hidup miskin dan penyakit terus menggerogoti tubuhku.

Hingga suatu ketika aku mendirikan sholat subuh, dan entah kenapa aku merasa seperti ada yang memelukku dengan erat, pelukan itu jauh lebih hangat dari pelukan seorang ibu dan belum pernah aku rasakan sebelumnya. Betapa bahagianya waktu itu hingga tak terasa aku mengalirkan air mata. Hati pun sampai berkata tidak rela jika kebahagiaan ini harus ditukarkan dengan seisi dunia sekalipun.

Sesudah sholat pun air mata terus mengalir, lalu kuangkat kedua tanganku sambil memelas memohon ampunanNya dan memohon agar diriku tidak ditinggalkan olehNya.

Detik-detik sebelum ajal menjemputku, aku membaca salah satu ayat Al-Quran tentang sumber ketenangan. Surat itu adalah surat Ar-Ra’d ayat 28, yang berbunyi: “orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.”

Ternyata inilah jawabannya, inilah alasan kenapa hatiku bisa merasa tenang. Inilah alasan kenapa dulu aku hidup tidak tenang meski banyak uang sebab aku jauh dari Allah. Andaikan Allah tidak memberikanku penyakit ini dan aku meninggal saat sibuk mengurus urusan dunia, aku akan jadi golongan orang yang paling celaka.

“Puji syukur kupanjatkan kepadaMu Yang Maha Besar, Maha Pengampun dan Maha Terpuji yang telah menunjukkan jalan yang lurus kepadaku. Hamba yang berlumuran dosa ini tidak pantas masuk surga, tapi hamba juga takut masuk neraka, tidak ada hal lain yang hamba harapkan selain ampunan dan ridho-Mu,” begitulah doa terakhirku.

loading...
loading...
Loading...
Loading...