in

Betapa Malunya Suka Mengoreksi Kesalahan Orang Lain Jika Berintrospeksi

Betapa Malunya Suka Mengoreksi Kesalahan Orang Lain Jika Berintrospeksi
Ilustrasi (Foto: baldatuna.com)

Umumnya manusia itu pintar dalam mengoreksi kesalahan orang lain tapi bodoh dalam mengoreksi kesalahan dirinya sendiri. Ketika tahu sedikit kesalahan orang lain, kita akan membesar-besarkannya, namun kita sendiri malah suka mengecilkan kesalahan dan kelemahan diri sendiri dengan menyembunyikannya.

Di televisi atau internet mungkin kita sering melihat bagaimana para ahli politik dan agama saling menjelekkan satu sama lain, merasa dirinya yang paling benar dan yang bertentangan dengan pendapatnya maka salah. Parahnya lagi banyak pihak yang suka memanfaatkan kelemahan orang lain untuk menjatuhkannya.

Dari pada disibukan dengan mengurus kejelakan dan kesalahan orang lain yang malah akan membuat hati kita gelisah, lebih baik kita disibukan dengan mengoreksi diri sendiri atau introspeksi. Allah sangat menyukai orang yang suka berintrospeksi. Sebab introspeksi bisa membuat seseorang jauh dari sifat sombong dan pencela.

loading...

Sedikit pengalaman pribadi, suatu ketika di bulan Ramadhan, aku hendak membeli makanan di sebuah warung makan berkonsep prasmanan untuk rbuka puasa.

Ketika itu banyak sekali pelanggan yang berkunjung ke warung tersebut karena jam sudah mendekati waktu berbuka. Para pelayan terlihat kerepotan melayani permintaan pembeli.

Anehnya tidak ada antrian berbaris, dan siapa saja yang ditunjuk oleh pelayan, baru bisa mulai memesan makanan. Aku sudah coba bilang kepada salah satu pelayan untuk segera menyiapkan pesananku, tapi dia bilang tunggu dulu, yang lain dulu.

Oke gapa! Setelah selesai, aku kembali minta pelayan itu untuk segera menyiapkan pesananku, tapi dia malah mengelak tanpa satu patah kata pun dan malah melayani pelanggan lain.

Aku mencoba bersabar karena takut puasaku batal. Untuk ketiga kalinya aku meminta pelayan itu, dia kembali mengelak dan malah melayani pelanggan lain yang baru datang. Betapa kesalnya aku kepada pelayan itu, sementara aku yang datang lebih awal diabaikan.

Dalam hati aku sudah siap pasang badan untuk membentak pelayan itu. Tapi aku ingat ini bulan puasa, dan terlebih lagi banyak cewek cantik ketika itu, jadi aku agak malu kalau mau marah (kebetulan saya cowok).

Karena takut emosi tidak bisa ditahan, aku pun pergi meninggalkan warung itu tanpa membawa hasil apa-apa dengan perasaan luar biasa kesal. Namun pas aku naik motor, tiba-tiba hatiku berkata demikian dengan sendirinya:

“Pelayan itu kelakuannya mirip sekali dengan kelakuan kamu kepada Tuhan-mu (Allah).”

Betapa Malunya Suka Mengoreksi Kesalahan Orang Lain Jika Berintrospeksi
Foto: blogspot.com

Jika dijabarkan lebih luas, ternyata kelakuanku pada Allah sama halnya seperti kelakuan pelayan itu terhadap saya. Ketika adzan berkumandang yang hakikatnya Allah menyeru kepadku untuk segera melaksanakan sholat, aku malah asik-asik saja dengan urusan dunia, dalam kata lain aku mengabaikan perintah Allah.

Sama halnya dengan pelayan itu, ketika aku memintanya untuk segera membungkus makanan, dia malah sibuk membungkuskan makanan orang lain yang baru datang. Liciknya lagi saya malah merasa kesal dan tidak menerima perlakuan pelayan itu.

Sedangkan pada Allah, aku sudah berulang kali, bahkan tak terhitung lagi, melakukan sifat seperti yang dilakukan pelayan itu kepadaku. Kalau Allah sifatnya seperti manusia, mungkin aku sudah kena adzab.

Tapi beruntung, sifat Allah jauh berbeda dengan sifat manusia. Meskipun aku berulang kali mengabaikan perintahNya, tapi Allah tetap memberikan kesempatan. Mungkin inilah sebagian kecil dari sebagian kecil Maha Besar Allah.

Seketika itu pula, rasa kesalku pada pelayan itu yang tadinya sebesar gunung lenyap semuanya, tidak tersisa satu butir pasir pun. Dari kesal, aku malah merasa malu pada diri sendiri. Perasaan malu yang amat luar biasa waktu itu.

Belajar dari pengalaman di atas, sebelum kita menilai kejelekan dan kelemahan orang lain, kita lihat dalam diri kita sendiri, pasti dalam diri kita ada kejelekan dan kelemahan seperti orang lain.

Jika kita sudah pandai berintrospeksi pada diri sendiri, tak ada sedikit pun waktu yang akan dihabiskan untuk mengoreksi kesalahan orang lain. Tapi kita lebih cenderung untuk membantu mengarahkannya ke arah yang lebih baik, bukan malah menjelekkannya.

loading...
loading...
Loading...
Loading...