in

Berapa Luas Rumah Nabi Muhammad SAW? Anda Akan Sedih Mengetahuinya

Berapa Luas Rumah Nabi Muhammad SAW? Anda Akan Sedih Mengetahuinya
Foto: islamidia.com

Nabi Muhammad SAW hidup dalam kesederhanaan dan kemiskinan. Meski beliau adalah seorang Rasul dan pemimpin seluruh umat Islam, tapi Rasulullah lebih memilih hidup sederhana saja daripada hidup bergelimang harta yang bisa melupakan kehidupan akhirat.

Kesederhanaan Rasulullah tercermin dari rumah yang jadi tempat tinggalnya bersama keluarga yang terletak di pojok Masjid Nabawi, tepatnya di tempat yang sekarang sudah dijadikan makam Nabi Muhammad.

Rumah Nabi Muhammad sangat kecil dan hanya beralaskan tanah. Dindingnya terbuat dari tanah liat, dan atapnya terbuat dari pelapah kurma.

Imam Bukhori dalam kitab shohih adabul mufrodkarya menyebutkan bahwa Daud Bin Qais berkata:

“Saya melihat kamar Rasulullah saw atapnya terbuat dari pelepah kurma yang terbalut dengan serabut, saya perkirakan lebar rumah ini, kira kira 6 atau 7 hasta (1 hasta = 0,45 meter), saya mengukur luas rumah dari dalam 10 hasta, dan saya kira tingginya antara 7 dan 8, saya berdiri dipintu aisyah saya dapati kamar ini menghadap Maghrib (Marocco)”.

Baca Juga: 6 Mukjizat yang Terjadi Menjelang Kelahiran Nabi Muhammad

Jadi, rumah Rasulullah panjangnya tidak lebih dari 5 meter, lebarnya hanya 3 meter dan tinggi atap 2,5 meter. Hal ini menjadi bukti bahwa Nabi Muhammad dulu hidup dalam kesederhanaan.

“Bahwa suatu hari sayyidina Umar bin Al Khattab pernah menemui baginda Nabi Muhammad SAW. saat itu beliau sedang berbaring di atas tikar kasar yang terbuat dari pelepah kurma. dengan berbantalkan kulit kasar yang berisi serabut ijuk kurma. melihat keadaan Nabi Muhammad yang seperti itu sayyidina Umar pun menangis” .

” Kemudian Nabi Muhammad SAW pun bertanya: Mengapa engkau menangis?”

Sayyidina Umar Radhiallah anhu menjawab: ” Bagaimana aku tidak menangis. Tikar ini membekas pada tubuhmu. Engkau adalah Rasulullah SAW, Utusan Allah SWT. kekayaanmu hanya seperti ini. sedangkan kisra dan raja-raja lainnya hidup bergelimangkan kemewahan” .

“Nabi Muhammad SAW menjawab: apakah engkau tidak rela jika kemewahan itu untuk mereka di dunia dan untuk kita di akhirat nanti?” (Hadits riwayat Bukhari Muslim)

Karena Nabi Muhammad tingkat iman dan taqwa nya sangatlah tinggi, beliau menganggap bahwa kehidupan di dunia hanya sementara dan di akhirat kekal. Jadi beliau tidak perlu hidup dalam kemewahan karena suatu saat nanti akan ditinggalkan.

Tidak ada lagi alasan mengeluh beribadah karena kondisi ekonomi yang tidak memadai. Rasulullah saja yang hidup dalam kemiskinan mampu meningkatkan iman dan taqwa nya di depan Allah SWT.