in ,

Aku Malu, Pintaku Beribu-Ribu Tapi Sujudku Selalu Terburu-Buru

Aku Malu, Pintaku Beribu-Ribu Tapi Sujudku Selalu Terburu-Buru 1

Kita selalu memiliki banyak keinginan, ingin ini ingin itu dan tak pernah puas dengan apa yang sudah didapatkan. Sudah mendapatkan sesuatu yang kita inginkan, muncul lagi keinginan baru dan akan terus begini selama kita hidup.

Ketika keinginan belum terwujud, aku mendadak ingin berdoa kepada Allah, biasanya juga jarang berdoa. Ya kadang jika dipikirkan, aku ini ternyata licik, pas ada kemauan baru berdoa, pas kemauan tersebut dikabulkan, mendadak lupa bersyukur dan tidak berdoa lagi.

Dan ketika doaku belum dikabulkan, keinginanku tak kunjung terwujud, aku seolah protes kepada Tuhan, kenapa doaku tak kunjung dikabulkan, kurang apa aku, apakah ibadahku kurang, apakah aku kurang baik atau apa?

Baca Juga: Jangan Takut Doa Tidak Dikabulkan, Tapi Takutlah Kalau Kita Berhenti Berdoa

Jika dipikirkan lagi, aku terlalu berani kepada Tuhan, betapa lantangnya aku. Kepada manusia pun aku gak akan berani berkata seperti itu, tapi kenapa kepada Tuhan yang telah menciptakanku, memberiku rezeki, memberikanku udara secara gratis, aku berani selantang itu.

Doaku beribu-ribu, tapi yang kuminta bukan kebaikan akhirat, semuanya hanya tentang uang, jabatan dan popularitas. Semua yang kupinta hanya tentang memenuhi hasrat dunia yang tidak pernah ada puasnya ini.

Dan liciknya lagi aku, permintaanku ingin cepat-cepat dikabulkan, tapi sujudku selalu terburu-buru. Tidak ada kekhusyuan dalam sholat, yang ada hanya tergesa-gesa karena takut kehilangan dunia.

Baca Juga: Jika Dimaknai, Dahsyatnya Doa Duduk di Antara Dua Sujud Bisa Menggetarkan Hati

Sholatku hanya sebatas formalitas, sholatku bukan karena aku rindu pada Allah atau bukan karena aku ingin semakin dekat dengan Allah. Hatiku lebih tahu soal itu, ternyata sholatku hanya baru sebatas jembatan untuk meraih kekayaan dunia.

Memang betul, kalau aku intropeksi pada diri sendiri, ternyata aku ini orang yang licik. Hanya saja aku terlalu buta untuk menyadarinya dan menganggap bahwa diriku ini sudah benar, merasa jadi orang pertama yang bakal membuka pintu surga.

Meskipun sudah menyadari kesalahanku, kadang aku enggan memperbaikinya dan mengulangi kesalahanku berulang kali. Tapi jauh dalam lubuk hatiku, selalu ada sinar yang menerangi jalanku untuk terus memperbaiki diri tanpa berputus asa.

Loading...
Loading...