in

10 Kata Mutiara Cak Nun Tentang Islam Ini Memiliki Makna Mendalam

10 Kata Mutiara Cak Nun Tentang Islam Ini Memiliki Makna Mendalam 1

Muhammad Ainun Nadjib atau lebih dikenal dengan nama Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun adalah seorang tokoh intelektual, penyair dan budayawan yang mendalami tentang Islam.

Pria kelahiran Jombang, Jawa Timur ini terkenal dengan dakwahnya yang suka menyelipkan kata-kata dengan makna yang mendalam. Hanya orang yang menggunakan akal sehatnya yang mampu mencerna perkataan Cak Nun.

Dihimpun Wow Menariknya dari situs jagokata.com, berikut ini ada 10 kata mutiara Cak Nun tentang agama Islam yang jika direnungkan, kata-katanya tersebut mengandung makna yang begitu mendalam.

1. Harapkanlah keridhoan Allah, bukan mengharapkan surga

“Surga itu gak penting, fokuskan dirimu hanya pada Tuhan.”

Untuk apa kita beribadah dan beramal sholeh, apakah karena ingin masuk surga atau karena ingin mendapatkan keridhoan Allah? Surga itu ciptaan Allah, carilah keridhoan Allah lebih dulu, setelah mendapatkan ridho-Nya, silahkan masuk surga dari pintu mana saja.

2. Jangan sombong karena ilmu agamamu banyak

“Tidak apa-apa kalau ilmu agamamu masih pas-pasan, itu malah membuatmu menjadi rendah hati. Banyak orang yang sudah merasa tahu ilmu agama, malah menjadikannya tinggi hati.”

Banyak orang yang merasa punya ilmu agama yang banyak, tahu kitab ini kitab itu, tapi malah menjadikannya orang sombong. Merasa dirinya tahu banyak tentang agama, ia merasa dirinya paling baik dan bakalan masuk surga.

Baca Juga: 6 Perkataan Ali bin Abi Thalib yang Jadi Kenyataan Sekarang

3. Yang dilihat Allah itu adalah perjuangan, bukan keberhasilan

“Yang penting bukan apakah kita menang atau kalah, Tuhan tidak mewajibkan manusia untuk menang sehingga kalah pun bukan dosa, yang penting adalah apakah seseorang berjuang atau tak berjuang.”

Di depan Allah, menang atau kalah tidak penting. Yang paling penting adalah seberapa besar perjuangan kita untuk mendapatkan ridho-Nya. Tak peduli jatuh berapa kalipun, yang penting terus berjuang hingga akhir hayat. Itulah yang akan jadi penilaian Allah.

4. Hanya Allah yang berhak menentukan kita muslim atau bukan

“Aku menyebut diriku muslim saja aku tidak berani, karena itu merupakan hak prerogatifnya Allah untuk menilai aku ini muslim atau bukan.”

Ketahuilah hanya Allah yang berhak menentukan kita muslim atau bukan, bahagia atau celaka, masuk surga atau neraka, itu hanya Allah. Jika ada orang yang berani menilai kejelekan orang lain, secara tak sadar ia sudah merampas hak Allah.

5. Agama malah dijadikan alat cambuk

“Agama kurang diperkenalkan sebagai berita gembira dan janji cinta, melainkan sebagai tukang cambuk, pendera dan satpam otoriter.”

Islam itu ada untuk menyebarkan kasih sayang dan rahmat ke semesta alam sehingga terciptalah kebahagiaan dan keadilan. Namun sekarang, agama malah dijadikan alat untuk merebut kekuasaan, alat untuk menjatuhkan orang lain dan alat untuk mendapatkan kekayaan dunia.

6. Menyendiri itu sangat penting

“Menyepi itu penting, supaya kamu benar-benar bisa mendengar apa yang menjadi isi dari keramaian.”

Kadang kala kita harus menyendiri, jauh dari keramaian dan jauh dari teknologi. Menyendiri itu adalah cara terbaik untuk merenungkan kebesaran Allah.

Baca Juga: 7 Nasihat Ali bin Abi Thalib yang Harus Diingat Seumur Hidup

7. Ketenangan hati bukan diukur dari kekayaan materil

“Keceriaan dan kenyamanan hidup tidak terlalu bergantung pada hal-hal di luar manusia melainkan bergantung pada keyakinan batin di dalam diri manusia.”

Banyak yang beranggapan bahwa hidup ini akan tenang jika banyak harta. Apa yang membuat hidup ini tenang? Itu tergantung dari keadaan hati kita, jika hati kita tenang, hidup pun akan tenang. Namun ketenangan hati bukan soal kekayaan materil, melainkan kekayaan batin dalam diri manusia.

Tak sedikit orang yang kaya tapi hatinya dipenuhi kegelisahan dan ketakutan karena diberatkan oleh urusan dunia. Tak sedikit pula orang yang hidupnya miskin tapi hatinya tenang karena dirinya selalu mengingat Allah.

8. Apakah kita bisa tetap rendah hati jika merasa bangga?

“Bisakah kita menumbuhkan kerendahan hati di balik kebanggaan-kebanggaan?”

Orang yang mulia di depan Allah itu adalah orang yang rendah hati, merasa dirinya lemah dan tak punya apa-apa di depan Allah. Ketika hati kita merasa bangga dengan prestasi yang sudah kita raih, entah itu karir, harta atau jabatan, apakah kita bisa rendah hati?

9. Dakhwah itu dimulai dari prilaku

“Dakwah yang utama bukan berupa kata-kata. Melainkan dari perilaku. Orang yang berbuat baik sudah berdakwah.”

Dakwah itu tak perlu menguasai banyak agama. Yang penting kita menunjukkan akhlak mulai, karena berbuat baik kepada orang lain sudah termasuk berdakwah. Lalu lengkapilah perbuatan baik tersebut dengan kata-kata agar mereka paham.

10. Akhlak adalah hal mendasar

“Sunnah Rasul  yang paling mendasar adalah akhlaknya, bukan kostumnya. Orang yang disukai Tuhan adalah orang yang menyebut dirinya buruk, biso rumongso (merasa tidak bisa), nggak rumongso biso (merasa paling bisa).”

Jangan terlalu mempermasalahkan sunnah Rasul, tapi lihatlah sunnah Rasul yang paling mendasar, yaitu akhlaknya. Karena orang yang paling disukai oleh Allah yaitu orang yang selalu merasa dirinya berlumuran dosa, tak berdaya dan merasa tidak bisa, tapi dia perlahan-lahan melangkahkan kakinya kepada Allah, bukan orang yang sombong karena merasa paling bisa.

Loading...
Loading...