in ,

Segala Sesuatu Jadi Mudah Bukan Karena Kita Bisa, Tapi Karena Tuhan Memudahkan Kita

Segala Sesuatu Jadi Mudah Bukan Karena Kita Bisa, Tapi Karena Tuhan Memudahkan Kita

Entah kenapa, aku selalu merasa bahwa apapun yang berhasil aku raih sampai sekarang itu karena aku bisa, karena aku pandai dan kadang merasa yang paling hebat. Permasalahan datang menghampiriku, kemudian kuselesaikan masalah tersebut dan disitu aku mengklaim bahwa masalah itu aku yang menyelesaikan.

Aku berhasil menciptakan sebuah usaha dari nol sampai sebesar sekarang. Kemudian aku memproklamasikan diri bahwa usaha itu akulah yang membangunnya. Jika bukan karena diriku, mustahil usaha itu bisa maju seperti sekarang.

Lalu ada orang meminta pendapatku, kemudian kuberikan saran yang bagus untuknya. Orang itu terlihat bahagia karena sudah membantunya menemukan solusi. Disitu aku merasa besar kepala, aku merasa sudah jadi orang yang paling pintar sampai bisa memecahkan masalah orang lain.

Orang-orang mulai memujiku karena kesuksesan yang berhasil kuraih. Hmm… ketika itu aku merasa jadi orang paling besar dan paling pantas mendapatkan semua penghormatan itu. Tak boleh ada orang yang berani merendahkanku.

Merasa paling hebat dan gagah sudah tertanam dalam diriku. Seolah gunung dan lautan pun tak akan mampu menghalangi langkahku. Apapun masalah yang kuhadapi, aku bisa menyelesaikannya dengan mudah.

Aku juga rajin beribadah, tak ada kewajiban satupun yang aku lewatkan. Namun aku merasa akan jadi orang yang akan pertama kali masuk surga dan mustahil bisa masuk neraka karena aku rajin beribadah. Kumerasa jadi orang paling suci yang tak punya dosa sedikitpun.

Hingga di suatu waktu, aku sedang duduk sendirian di taman sambil memandang dua pohon yang saling bersebelahan. Aku terus melihat dedaunan berjatuhan dari salah satu pohon itu. Tapi kuperhatikan pohon yang satunya lagi, daun-daunnya tidak berjatuhan seperti pohon di sebelahnya.

Dalam hati, kubertanya kenapa daun pohon yang satu berjatuhan, sementara daun di pohon yang satunya lagi tidak berjatuhan. Padahal kedua pohon itu jenisnya sama, umurnya juga terlihat sama.

Aku sangat penasaran dan terus bertanya dalam hati kenapa bisa begitu. Lalu tiba-tiba ada pria asing duduk di sebelahku. Dia tiba-tiba berkata, “Kamu sedang melihat daun-daun pohon itu?” Lalu aku jawab iya.

Entah kenapa pria itu seperti tahu isi hatiku. “Kamu pasti kebingungan kenapa pohon yang itu daun-daunnya berjatuhan, dan yang satunya lagi tidak.” Kujawab lagi iya.

Dengan singkat, pria misterius itu menjawab, “Semua sudah ada izinnya!” Lalu dia tiba-tiba menghilang dan aku langsung terbangun. Kusadar semua itu hanyalah mimpi tapi terasa nyata sekali.

Walau itu hanya mimpi, perkataan pria itu masih terngiang di kepalaku tapi aku tidak tahu apa makna mimpi itu. Kuputuskan untuk menceritakan mimpi itu kepada seorang ustad, barang kali dia tahu apa maknanya.

Sambil tersenyum, ustad itu menjawab bahwa segala sesuatu yang sudah terjadi dan yang akan terjadi sudah ditakdirkan oleh Allah. Termasuk daun yang berjatuhan dari pohon, walau hanya satu daun, tapi tanpa ada izin dari Yang Maha Kuasa, daun itu tidak akan jatuh dari pohonnya.

Begitulah makna dari mimpi tersebut. Lalu aku merenung kembali, jika satu daun saja harus ada izin dari Allah untuk bisa jatuh dari pohon, apalagi hal-hal besar yang menimpaku.

Aku berhasil memecahkan permasalahan ternyata bukan aku yang menyelesaikannya, tapi karena Allah yang menyelesaikannya untukku. Aku berhasil membangun usaha sampai sukses bukan karena aku pandai berbisnis, tapi itu sudah ada izin dari Yang Maha Kuasa. Aku bisa menemukan solusi untuk permasalahan orang lain, bukan karena aku paling pintar, tapi Allah-lah yang memberikan solusi itu melalui perantara diriku.

Apapun yang berhasil kuraih ternyata hanya 1 persen saja, 99 persen sisanya mutlak dari Allah. Satu persen itu adalah ikhtiar yang aku lakukan. Tak peduli seberapa keras aku bekerja, seberapa pintar otakku dan seberapa besar tenaga yang kukeluarkan, jika tidak ada izin dari-Nya, aku tidak akan bisa meraih apapun seperti halnya daun yang jatuh dari pohonnya.

Setelah mengetahui semua itu, ternyata aku tidak pantas mendapatkan pujian dan penghormatan dari orang lain karena pujian dan penghormatan itu hanya untuk Tuhan. Aku tidak pantas merasa paling pintar dan paling hebat karena semua itu hanyalah pemberian.

Ternyata, segala sesuatu yang kita lakukan bisa jadi mudah bukan karena kita bisa, tapi karena Allah telah memudahkan segala urusan untuk kita.

Sudahkah kamu bersyukur hari ini?