Pengetahuan

Mengenal Sindrom FOMO, Penyakit Mental yang Banyak Diderita Remaja

Mengenal Sindrom FOMO, Penyakit Mental yang Banyak Diderita Remaja

Pernahkah kamu merasa khawatir ketinggalan sebuah berita kekinian ? Atau merasa gusar karena dalam waktu lama tidak bisa mengecek media sosialmu ? Hati-hati ini bisa jadi gejala dari FOMO atau kepanjangannya Fear of Missing Out.

FOMO sendiri memiliki arti yaitu sebuah perasaan cemas dan takut yang timbul di dalam diri seseorang akibat ketinggalan sesuatu yang baru, seperti berita, tren, dan hal lainnya yang bisa dilakukan orang lain tetapi tidak bisa dilakukan dirinya sendiri. FOMO ternyata masuk dalam kategori gangguan kejiwaan lho. Di mana gangguan kejiwaan tersebut mendorong keinginan seseorang untuk menjadi seperti orang lain melalui akses media sosial.

Karena kecemasan dan ketakutan yang berasal dari sindrom FOMO, membuat seseorang merasa depresi atau stres berlebih. Penderitanya bisa merasakan kelelahan, gemetar, pusing, sulit konsentrasi, mual, bahkan kesulitan untuk tidur nyenyak. Jika keseringan mengalami hal-hal tersebut, dapat memicu penyakit lain dalam tubuh kamu, bahkan penyakit yang lebih kronis.

Ketika seseorang merasa cemas, hormon-hormon stres seperti kortisol dan adrenalin akan dilepaskan dan tentunya dapat berdampak buruk pada bagian tubuh lainnya. Sebab, hormon kortisol dapat mencegah pelepasan zat-zat yang menyebabkan peradangan, bahkan mematikan sistem kekebalan alami tubuh. Bahkan dalam jangka panjang kecemasan bisa berpengaruh pada sistem kardiovaskular dan kesehatan jantung.

Fakta buruknya adalah menurut penelitian sindrom FOMO banyak diderita oleh remaja, yang bisa menghabiskan waktu 8-10 jam setidap harinya di depan smartphone. Nah, baiknya kamu melakukan hal-hal berikut supaya terhindar dari sindrom FOMO.

Baca Juga: Menderita Sindrom Langka, 4 Orang Ini Jadi Punya Mata Paling Indah

1. Membatasi Penggunaan Media Sosial

Kehadiran media sosial memang sangat membantu kita dalam melengkapi kebutuhan dan pekerjaannya. Media sosial telah menjadi media dalam berkomunikasi, bersosialisasi, berbagi informasi, bahkan membantu promosi. Meskipun begitu tetap tidak baik berlebihan dalam penggunaanya. Penting bagimu memberi batasan waktu, terutama kamu juga harus melakukan hal-hal lain yang lebih produktif. Kamu bisa memberi alarm peringatan pada penggunaan media sosial di telepon pintarmu.

2. Mengubah Pola Pikir

Tidak semua yang sedang kekinian ideal untuk kita kenakan atau kita lakukan. Itulah mengapa menjadi diri sendiri sangat menyamankan. Daripada kamu bersikeras mengikuti update lebih baik kamu memperkuat karakter dirimu sendiri.

3. Fokuslah pada Dunia Nyata

Mulailah membangun kenyamanan dalam berinteraksi secara nyata dengan teman, sahabat atau rekan kerjamu. Hal ini membantumu menghindari kecanduan pada media sosial. Hal ini juga membantu membangun kepedulianmu yang nyata kepada relasi di sekitarmu, bukan hanya sekedar pencitraan di media sosial.

4. Ubahlah Rasa Irimu menjadi Motivasi

Memperhatikan kehidupan orang lain, selebgram, atau artis membuatmu menjadikan setiap unggahan mereka sebagai tolak ukur kebahagianmu. Jika mereka bisa melakukan suatu hal sementara kamu tidak kemudian kamu akan merasa cemas dan iri. Lalu kamu menjadi krisis kebahagiaan. Seharusnya hal tersebut memberi motivasi untukmu bisa meraih hal yang lebih baik daripada hal yang mereka lakukan.

Semoga beberapa cara di atas membantu kita menghindari sindrom FOMO.

To Top