Pengetahuan

Kenapa Seseorang Mau Melakukan Bom Bunuh Diri? Ini Penjelasannya Menurut Sains

Kenapa Seseorang Mau Melakukan Bom Bunuh Diri? Ini Penjelasannya Menurut Sains

Aksi bom bunuh diri kembali lagi terjadi di Indonesia. Kali ini insiden bom bunuh diri terjadi di Polrestabes Medan, Sumatera Utara, pada pukul 08.45 WIB, Rabu (13/11/2019).

Untungnya tidak ada korban tewas dalam serangan tersebut, hanya ada beberapa orang terluka. Sementara pelaku bom bunuh diri dipastikan tewas setelah melancarkan aksinya.

Terlepas dari insiden tersebut, lantas apa sih yang memotivasi seseorang sampai ia mau melakukan bom bunuh diri? Berikut beberapa informasi yang berhasil Wow Menariknya himpun dari National Geographic.

Ada banyak pendapat mengenai individu yang berani melakukan bom bunuh diri. Ada yang mengatakan kalau pelaku dicuci otaknya, diancam atau memang mereka punya tujuan tertentu.

Namun di balik semua itu, ada proses psikologi yang disebut penyatuan jati diri dengan kelompok. Menurut Harvey Whitehouse, peneliti dari Universitas Oxford, menjelaskan bahwa penyatuan jati diri beperan besar dalam mendorong seseorang untuk rela mati demi kelompok dan keyakinan agama mereka.

Menurut Bill Swann, psikolog sosial dari Universitas Texas, yang pertama kali mencetuskan teori penyatuan jati diri, mengatakan perasaan itu muncul karena adanya pengalaman berbagi dalam setiap peristiwa sampai melibatkan emosi secara mendalam hingga membentuk keinginan untuk hidup dan mati bersama.

Baca Juga: Kenapa Seseorang Bisa Jadi Teroris?

Harvey dan timnya dari Centre of Anthropology and Mind, melakukan penelitian terhadap sejumlah kelompok militan, seperti kelompok radikal yang berkaitan dengan agama dan kelompok garis keras lainnya, seperti suporter sepak bola, kelompok sipil bersenjata dan klub bela diri.

Penelitian dilakukan dengan cara pengamatan langsung di lapangan, survei dan wawancara terhadap kelompok yang sejumlah anggotanya tewas saat bertempur demi kepentingan kelompoknya.

Setiap anggota kelompok ternyata memiliki pandangan saudara sehidup semati yang kuat. Mereka harus berbagi kebersamaan dalam setiap peristiwa yang pada akhirnya memunculkan keinginan untuk saling melindungi satu sama lain yang dapat mendorong individu untuk melakukan pengorbanan diri.

Harvey menjelaskan bahwa memahami munculnya rasa persaudaraan di dalam kelompok ekstrim terlihat lebih masuk akal ketimbang menyalahkan pemahaman ekstrim sebuah agama. Menurutnya, kekerasan dan pemaksaan tidak akan bisa memberantas terorisme, justru itu bisa jadi bumerang.

Cara yang paling efektif untuk mencegah tindakan ekstrim seperti ini adalah mengetahui apa atau siapa yang mereka perjuangkan, serta mengapa mereka mau melakukannya. Kemudian hilangkan rasa persaudaraan dalam kelompok radikal tersebut.

Perang orangtua, keluarga serta lingkungan seperti pemimpin agama, sekolah, pekerjaan, juga bisa membantu seseorang memunculkan kembali motivasi hidupnya. Jika individu sudah menemukan kembali motivasi hidupnya, dia tidak akan berani melakukan tindakan bom bunuh diri.

To Top