in ,

Pelajaran Hidup Berharga di Piala Dunia 2018: Kenyataan Tak Selalu Sesuai Harapan

Pelajaran Hidup Berharga di Piala Dunia 2018

Banyak sekali kejutan tak diduga-duga dalam ajang Piala Dunia 2018 ini. Seperti tidak ikut sertanya dua tim besar Italia dan Belanda, dan banyak tim yang diprediksi akan gugur di babak penyisihan grup namun nyatanya bisa lolos ke 16 besar.

Tapi di samping itu, beberapa tim yang banyak dijagokan dan diprediksi akan lolos sampai semifinal, gurur di tengah jalan. Misalnya saja sang juara dunia Jerman yang tidak lolos ke babak 16 besar setelah dikalahkan oleh Korea Selatan 2-0. Ini adalah pertama kalinya dalam sejarah Korsel bisa mengalahkan Tim Panser.

Kemudian Spanyol yang juga harus menelan pahitnya kekalahan setelah disingkirkan oleh tuan rumah Rusia lewat adu penalti. Padahal dua tim besar ini pernah meraih gelar juara dunia dan diisi oleh banyak pemain kelas elite. Tapi itu tak jadi jaminan bisa membawa mereka kembali jadi juara karena bola itu bulat.

loading...

Baca Juga: 5 Pelajaran Hidup yang Patut Anda Tiru Dari Seekor Anjing

Ada pelajaran hidup berharga yang bisa kita petik dari pertandingan di Piala Dunia 2018. Semoga bisa jadi pelajaran buat kita semua dalam kehidupan nyata.

Walau banyak orang yakin kalau Jerman, Spanyol dan Argentina bisa lolos sampai ke semifinal karena memiliki banyak pemain kelas dunia, tapi nyatanya mereka bisa dikalahkan oleh tim yang tidak diunggulkan.

Sang tuan rumah contohnya, tidak ada yang menyangka kalau Rusia bisa sampai ke perempat final. Padahal Rusia bukan tim yang dijagokan, tapi kenyataanya mereka bisa mengalahkan Spanyol.

Hidup ini bukan kita yang mengatur.

Pelajaran Hidup Berharga di Piala Dunia 2018
Foto: jawaban.com

Begitupun dengan kehidupan ini, di mana kita selalu banyak mengharapkan sesuatu yang baik, tapi kenyataannya kita malah mendapatkan sesuatu yang tidak baik. Kita pasti merasa kecewa jika sesuatu yang kita dapatkan tidak sesuai harapan.

Kita pasti kesal jika mendapatkan sesuatu yang tidak mengenakan di hati. Kadang kala kita tidak mau menerima kenyataan yang ada dan merasa sudah tidak ada harapan lagi. Jika pernah merasa demikian, bertanyalah dalam hati, yang mengatur hidup ini kita atau Allah?

Kita bisa sampai kecewa jika mendapatkan sesuatu yang buruk dikarenakan kita selalu merasa bahwa kehidupan ini harus selalu berjalan dengan kehendak kita. Apakah sudah lupa bahwa yang mengatur hasil itu adalah Allah? Lalu apa tugas kita?

Baca Juga: 4 Hikmah yang Jarang Disyukuri Ketika Rezeki Seret

Tugas manusia hanya berikhtiar, untuk hasilnya Allah yang menentukan. Saat Allah memberikan harta yang banyak, mobil, jabatan dan sebagainya, kita sebut itu kebahagiaan. Kita pasti merasa bahwa semua itu adalah hasil jerih payah kita, dan tidak mengakui kalau semua itu hanyalah titipan.

Dan ketika Allah memberikan hasil yang tidak sesuai harapan, kita sebut itu musibah, petaka atau siksa. Kemudian hati akan dipenuhi prasangka buruk. “Apakah Allah membenciku?” “Apakah Allah tidak sayang lagi kepadaku?” “Apakah ibadahku kepada Allah masih kurang?”

Bagaimana jika Allah bertanya kepada kita, “Apakah kamu ibadah kepadaku saat kamu bahagia saja, saat kamu mendapatkan kesenangan yang kamu harapkan, lalu ketika mendapatkan sesuatu yang buruk, kamu berpaling dari-Ku?”

Lihatlah para Nabi terdahulu, apakah mereka hidup senang-senang atau mereka hidup penuh dengan cobaan berat? Semua Nabi diuji dengan cobaan yang sangat berat, cacian, makian, kemiskinan, kelaparan, dan sebagainya. Tapi kenapa para Nabi selalu sabar dan bisa menerima semua cobaan berat itu?

Sebab Nabi ikhlas dan pasrah menerima semua ketentuan yang diberikan Allah, entah itu yang baik atau buruk. Karena semakin tinggi tingkat iman seseorang, maka semakin berat cobaannya. Cobaan diberikan untuk membuktikan apakah kita benar-benar beriman atau tidak.

Mungkin karena kita tidak ikhlas saat mendapatkan sesuatu yang tidak sesuai harapan, kita akhirnya kecewa dan beranggapan buruk kepada Allah.

Kasih sayang Allah itu tak selalu berwujud manis menurut akal manusia, seperti harta dan jabatan. Kebanyakan kasih sayang Allah berwujud pahit, seperti kurang harta, cacian, makian dan fitnah.

Yang jadi pertanyaan, apakah kita mau menerima semua ketentuan dari Allah? Jika ingin termasuk golongan orang beriman, kita harus bisa ikhlas menerima semuanya.

loading...
loading...
Loading...
Loading...