Inspirasi

Hey Joker, Tidak Semua Orang yang Tersakiti Akan Berubah Jadi Jahat

Hey Joker, Tidak Semua Orang yang Tersakiti Akan Berubah Jadi Jahat

Akhir-akhir ini film Joker tengah jadi perbincangan hangat. Film yang menceritakan asal muasal karakter villain Joker ini disebut-sebut sebagai film paling mengerikan tahun ini karena ceritanya yang begitu kelam.

Film ini menceritakan seorang pria bernama Arthur Fleck, seorang komedian gagal yang diabaikan masyarakat. Gangguan mental yang dideritanya ditambah lagi kenyataan hidup yang pahit perlahan-lahan membuat Arthur kehilangan jati dirinya.

Merasa dirinya tidak dipedulikan orang lain membuat Arthur berubah jadi sosok penjahat kejam berdarah dingin yang dikenal dengan julukan Joker the Prince of Crime.

Banyak penonton yang menyimpulkan kalau Joker jadi jahat seperti itu karena dia tersakiti, tidak ada yang mau menghargainya, ditambah lagi realita kehidupan yang menimpanya tidak semanis yang dipikirkannya.

Baca Juga: Kesabaran Memang Tidak Akan Memberimu Kemenangan, Tapi Akan Memberimu Kekuatan Untuk Menghadapi Cobaan

Oleh karena itu, dapat disimpulkan kalau karakter Joker tercipta dari orang yang baik yang tersakiti. Lantas apakah orang yang tersakiti akan selalu berubah jadi penjahat?

Tidak semua orang tersakiti berubah jadi jahat

Film Joker hanya mencoba mereflesikan apa yang terjadi di masyarakat. Joker ingin membuktikan bahwa setiap orang baik bisa berubah jadi jahat jika seandainya ada sesuatu yang menyakitinya. Apakah benar demikian?

Bisa benar, bisa salah, tergantung mental seseorang. Namun perlu diketahui, di kehidupan nyata ini tidak semua orang yang tersakiti berubah jadi jahat, banyak dari mereka yang tetap baik meskipun cobaan hidup terus menerpanya.

Sebagai contoh Nabi Muhammad. Jika kita membayangkan kehidupan Rasulullah, perjalanan hidup yang beliau hadapi begitu dipenuhi ujian yang amat berat.

Ketika dilahirkan, Rasulullah sudah tidak punya ayah. Saat masih anak-anak, ibunya kemudian meninggal. Selang beberapa tahun, kakek tercintanya yang telah merawatnya juga meninggal. Satu per satu orang yang dicintai Rasulullah meninggal.

Baca Juga: Cobaan Hidup Itu Seperti Kotoran Menjijikan Tapi Ada Berlian di Dalamnya

Belum lagi Rasulullah harus menerima hinaan dan penganiayaan dari orang-orang Quraisy, kaumnya sendiri. Tiada hari tanpa mendengarkan cacian makian kaum Quraisy yang menyakitkan.

Namun hal itu tidak membuat Rasulullah kehilangan arah. Penderitaan dan hinaan malah membuatnya semakin kokoh.

Beliau tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, tapi membalasnya dengan kebaikan. Seberapa hebatpun kaum Quraisy menyakitinya, beliau tetap sabar dan tawakal.

Lalu apa yang membuat Rasulullah tetap kokoh dalam kebaikan seberat apapun cobaan yang dialaminya? Sebab beliau dalam hatinya hanya berharap kepada Allah, hanya mengingat Allah dan hanya meminta pertolongan kepada Allah

Sehingga hatinya tetap tenang, tentram dan damai. Meskipun hidup beliau dipenuhi kesulitan, selalu ada Allah yang menemani sehingga kesulitan itu terasa ringan. Rasa sakit itu tidak ditanggapi dengan kebencian, tapi dengan kasih sayang.

Jadi kesimpulannya, tidak semua orang yang tersakiti akan berubah jadi jahat seperti Joker. Di luar sana banyak yang menjadikan rasa sakit sebagai motivasi untuk membuatnya jadi pribadi yang jauh lebih baik.

Ya mungkin Joker tidak menyadari kalau hidup ini tidak terlepas dari ujian. Dia tidak punya apa-apa dalam hatinya jadi terasa berat ketika menjalani kehidupan ini. Jika dia mau berjuang sedikit dan melihat sisi baik kehidupan, mungkin Joker akan jadi orang baik.

You May Like

Loading...
To Top