in ,

Filosofi di Balik Kisah Ular Membelit Gergaji

Filosofi di Balik Kisah Ular Membelit Gergaji 1

Alkisah diceritakan ada seekor ular yang memasuki gudang milik seorang tukang kayu. Kebiasaan si tukang kayu yaitu selalu membiarkan sebagian peralatannya berserakan tanpa menyimpannya dengan rapih.

Ketika ular itu masuk ke gudang, kebetulan ular itu merayap di atas gergaji yang tajam. Tajamnya mata gergaji itu menyebabkan perut ular tersebut terluka. Beranggapan gergaji itu menyerangnya, ular itu pun membalasnya dengan mematuk gergaji itu berulang kali.

Namun serangan bertubi-tubi ular tersebut malah membuat mulutnya jadi terluka parah. Marah dan putus asa, ular itu tetap berusaha mengalahkan gergaji itu dengan mencurahkan tenaga terakhirnya. Ia pun kemudian membelit gergaji itu dengan tubuh panjangnya.

Belitan tersebut justru malah membuat tubuhnya semakin terluka parah. Hingga akhirnya si ular mati karena seluruh tubuhnya dipenuhi luka.

Baca Juga: Kisah ‘Racun dalam Pikiran’ Ini Akan Membuatmu Sadar Kalau Cinta Bisa Merubah Segalanya

Sahabat Wow Menariknya, kadangkala di saat marah, kita sangat ingin melukai orang yang telah membuat kita marah. Setelah semuanya berlalu, baru kita menyadari bahwa yang terluka sebenarnya diri kita sendiri, bukan orang lain.

Pikiran negatif hanya akan melukai hati kita sendiri.

Banyaknya perkataan yang terucap dan perbuatan yang dilakukan selama kita marah, sebanyak itulah kita melukai diri sendiri. Semakin lama marahnya, semakin banyak lukanya.

Jika kita melawan kebencian dengan kebencian, maka kita akan semakin terluka dan bahkan bisa binasa seperti ular yang membelit gergaji itu.

Tapi lawanlah kebencian dengan cinta karena tidak ada musuh yang tidak dapat ditaklukan dengan cinta.

Tidak ada penyakit yang tidak bisa disembuhkan dengan kasih sayang. Tidak ada permusuhan yang tidak dapat dimaafkan oleh ketulusan.

Baca Juga: Filosofi Gula & Kopi Ini Akan Mengajarkanmu Tentang Arti Ikhlas

Tidak ada batu keras yang tidak dapat dipecahkan dengan kesabaran dan tidak ada kesulitan yang tidak dapat dipecahkan dengan ketekunan.

Ketahuilah, rasa dendam, amarah, curiga dan pikiran negatif lainnya, itu bagaikan ular yang membelit gergaji. Semakin lama kita menyimpannya, hal itu akan membakar dan menusuk hati kita sendiri. Tidak akan ada ketenangan dan kedamaian dalam hati selama pemikiran negatif itu ada.

Semoga kita semua bisa jadi orang yang pemaaf, sabar dan selalu berprasangka baik terhadap sesama. Karena hanya dengan cinta yang tulus, maka hati kita akan damai dan tentram.

Loading...
Loading...