Inspirasi

Bahagia Secukupnya, Sedih Seperlunya, Tapi Bersyukurlah Sebanyak-Banyaknya

Bahagia Secukupnya, Sedih Seperlunya, Tapi Bersyukurlah Sebanyak-Banyaknya

Semua orang pasti ingin bahagia, pengennya seumur hidup itu bisa senyum terus tanpa mengalami kesedihan. Tapi apa boleh buat, dunia ini bulat, ada kalanya di atas dan ada kalanya di bawah selama roda kehidupan ini berputar.

Siang dan malam akan terus silih berganti, begitupun bahagia dan sedih. Jika kamu sekarang bahagia, ingat kamu akan menghadapi kesedihan setelahnya, jika kamu sedih sekarang, ingat kebahagiaan akan segera menghampirimu.

Tidak ada satupun yang bisa menghindari roda kehidupan ini, tapi yang terpenting bagaimana kita menyikapinya ketika bahagia dan ketika sedih. Pikirkanlah bagaimana caranya ketika kita bahagia jangan sampai lupa daratan dan lupa langit dan pikirkanlah bagaimana caranya ketika sedih tapi hati tetap bahagia.

Saat kita bahagia, maka berbahagialah secukupnya, jangan berlebihan sampai mengambil ini itu, mau ini mau itu. Dan ketika sedih, sedihlah seperlunya, jangan berkepanjangan dan jangan pula diratapi. Pengen menangis, silahkan menangis, cukup beberapa saat saja menangisnya, setelah itu tersenyum kembali.

Tanpa kita sadari, sebenarnya kebahagiaan itu sepenuhnya ada dalam kontroling diri kita sendiri. Kalau kita ingin tetap bahagia disaat sedih, maka ubahlah sudut pandangmu saat melihat permasalahan yang ada.

Jangan menganggap masalah tersebut sebuah penderitaan, kesengsaraan atau kesakitan, tapi pandanglah itu sebagai pupuk untuk membuatmu semakin kuat. Memang kita manusiawi, kalau ada sedih, ya pasti sedih, wajar saja, kalau gak gitu, kamu bisa dianggap gila.

Baca Juga: 8 Macam Sumber Rezeki yang Harus Anda Ketahui

Bahagia Secukupnya, Sedih Seperlunya, Tapi Bersyukurlah Sebanyak-Banyaknya

Namun yang paling penting itu ubahlah sudut pandangmu ketika melihat masalah. Jangan lihat sisi negatifnya saja, lihat juga sisi positifnya.

Contohnya saja begini, waktu sehat kamu banyak menyia-nyiakan hidupmu untuk hal-hal yang tidak berguna, kamu lupa sama Allah dan melalaikan ibadah. Lalu di kemudian hari kamu divonis menderita penyakit yang lumayan berat sampai dokter memberitahu kalau sisa umurmu sebentar lagi.

Karena penyakit itu kamu memutar balikan pikiranmu, yang tadinya banyak melalaikan ibadah tapi sekarang jadi ingin ibadah. Sebab yang ada dalam pikiranmu bukan lagi urusan meraih kebahagiaan dunia, tapi aku belum punya bekal setelah mati nanti, sementara dosa-dosaku banyak dan sisa umurku sebentar lagi.

Kalau dilihat dari sisi negatifnya, jelas kamu tidak akan menerima kenapa harus saya yang menderita penyakit ini, tapi kalau dilihat dari sisi positifnya, karena penyakit inilah aku berubah pikiran, aku ingin mendekatkan diri lagi kepada Yang Maha Kuasa.

Andaikan aku tidak diberikan penyakit ini, aku pasti terus-terusan maksiat dan mungkin mati dalam keadaan maksiat. Tapi berkat Allah yang memberikanku penyakit ini, aku mau memperbaiki diri, setidaknya ada peluang bagiku untuk masuk surga. Karena aku yakin Allah itu Maha Pengampun.

Jika kamu melihat masalah dari sisi positifnya, yang ada kamu menerima permasalahan tersebut dengan hati ikhlas dan bahkan bersyukur sekali. Kira-kira begitulah ilustrasinya.

Jadi pada intinya, bahagialah secukupnya, sedihlah seperlunya, tapi perbanyaklah bersyukur dalam kondisi apapun. Bersyukur itu adalah kunci untuk meraih semua kebahagiaan.

To Top