in

5 Fakta Horor Pembantaian Muslim di Mali, Anak-Anak dan Ibu Hamil Jadi Korban

5 Fakta Horor Pembantaian Muslim di Mali, Anak-Anak dan Ibu Hamil Jadi Korban 1

Kasus pembantaian terhadap muslim kembali lagi terjadi. Beberapa waktu lalu seorang teroris bernama Brenton Tarrant membantai puluhan muslim yang sedang melaksanakan sholat Jumat di Christchurch, Selandia Baru. Dan sekarang kasus serupa terjadi lagi, di mana sekelompok penembak membantai sekitar 160 muslim di Mali, Afrika Barat.

Berikut Wow Menariknya sejauh ini berhasil menghimpun fakta-fakta horor pembantaian muslim di Mali yang terjadi pada hari Minggu, 24 Maret 2019 kemarin.

1. Sejauh ini ada 160 korban tewas

Para penyerang bersenjata menargetkan penduduk desa yang termasuk komunitas etnis Fulani di Desa Ogossagou di wilayah Mopti. Sejauh ini ada 160 korban tewas akibat serangan brutal tersebut dan ada 70 orang luka-luka.

2. Anak-anak dan ibu hamil jadi korban pembantaian

Kelompok penembak itu tak memandang bulu siapa yang dibunuhnya. Selain orang dewasa, mereka juga membunuh anak-anak dan ibu hamil yang tidak berdosa. Bahkan ada yang sampai dibakar hidup-hidup.

3. Tentang etnis Fulani

Etnis Fulani atau lebih dikenal Peulh adalah sekelompok etnis semi-nomadik, kelompok yang berpindah-pindah tapi pernah menetap di suatu tempat. Mereka sebagian besar adalah muslim.

4. Pelaku pembantaian

Etnis Dogon dituduh telah melakukan serangan brutal ini. Pasalnya orang-orang bersenjata yang menyerang desa tersebut diketahui mengenakan pakaian komunitas berburu Dozo. Mereka memasuki desa dan memasuki rumah-rumah warga dan membantai mereka. Setelah membantai, mereka membakar desa tersebut.

Para penyerang menuduh bahwa etnis Fulani memiliki hubungan dengan kelompok jihadis seperti Al-Qaeda. Namun tuduhan itu dibantah oleh orang-orang Fulani.

5. Upaya pembersihan etnis

Stasiun resmi pemerintah Mali, ORTM, melaporkan bahwa pembantaian yang terjadi merupakan upaya pembersihan etnis. Hal itu diungkapkan oleh salah seorang anggota dewan lokal, Amadou Diallo. Dia menambahkan kalau pelaku bukan jihadis, melainkan kelompok pemburu profesional.

Loading...
Loading...