How To?

3 Faktor Penyebab Anak Kecanduan Game Online, Orang Tua Wajib Batasi Dari Awal!

3 Faktor Penyebab Anak Kecanduan Game Online, Orang Tua Wajib Batasi Dari Awal!

Saat ini, kasus kecanduan game pun semakin meningkat dari waktu ke waktu. Melihat dampak buruk yang tersebar, banyak orang tua pun khawatir anaknya akan ikut kecanduan game online.

Banyak faktor yang bisa memicu rasa candu pada sang buah hati, salah satunya adalah pola pengasuhan orang tua. Hendaknya orang tua membatasi pemberian game kepada anak, sejak usia dini.

Peningkatan Dopanime Mampu Memicu Rasa Candu

Melihat maraknya kasus anak yang mengalami kecanduan game, membuat masyarakat berpekulasi bahwa setiap gamer adalah seorang yang ketergantungan. Namun, nyatanya tidak semua pecinta game berpotensi untuk kecanduan.

Menurut sebuah penelitan, tingkat dopamine rendahlah yang membuat rasa kecanduan tersebut muncul. Ketika seseorang bermain game, maka neotransmitter dopamine akan meningkat.

Baca Juga: Orang Tua Wajib Baca, Ini 4 Penyebab Utama Anak Jadi Nakal

Meningkatnya kandungan ini, mampu menimbulkan rasa senang dan puas. Manusia memang dilahirkan dengan dopamine yang rendah, sehingga kita akan selalu mencari cara untuk meningkatkan dopamine atau mencari cara untuk mendapat kesenangan.

Rasa senang dan ardrenalin yang diberikan oleh game online, mampu menjadi daya tarik yang cukup kuat. Apalagi bagi orang-orang yang menyukai tantangan, tentu rasa tegang ketika memainkan sebuah game ingin terus didapat dan dirasakan.

Selain faktor rasa senang tersebut, nyatanya ada faktor lain yang juga dapat memicu anak kecanduan game online. Faktor tersebut, tak lain didapat dari pola asuh orang tua.

Pola Asuh Orang Tua Pengaruhi Rasa Candu Game pada Anak

Dari segi sosial, pola pengasuhan yang dilakukan orang tua sangat mempengaruhi rasa candu pada anak. Umumnya orang tua akan memberikan game kepada anaknya sejak usia dini, pemberian ini mungkin bertujuan untuk memberikan hiburan pada sang buah hati.

Namun jika diberikan terlalu sering, justru membiasakan pola pikir anak bahwa game adalah satu satunya tempat untuk mencari kesenangan.

Ketika anak sudah mengalami kecanduan, tentu sangat sulit untuk menghentikannya. Hal ini karena seseorang yang mengalami kecanduan, merasa ingin terus bermain game online dan melupakan aktivitas lainnya. Bahkan dalam kasus yang cukup serius, mereka juga akan melupakan kebutuhan pokok yaitu makan dan tidur.

Menurut pimpinan Pondok Pesantren Nurul Firdaus, Dr. Gumilar, S.Pd., MM., Ch., CHt., pNNLP, seperti dikutip dari blog pribadinya gumilar.net, mengatakan kecanduan game online ini tidak hanya di Indonesia saja. Namun, sudah menyebar hingga ke seluruh dunia.

Gumilar merupakan sebuah pimpinan, dari pesantren yang membuka tempat rehabilitasi untuk mereka yang kecanduan game. Menurut beliau, para santri yang mengalami kecanduan game akan memiliki perilaku yang tidak wajar.

Baca Juga: 5 Penyebab Anak Berani Melakukan Kekerasan, Orang Tua Harus Tahu!

Bagi para pecandu game online tersebut, game adalah segala-galanya. Mereka akan melupakan tugas utama, bahkan lupa untuk merawat dirinya sendiri. Rasa candu tersebut membuat mereka tidak bisa lepas dari game, sehingga akan lupa mandi maupun tidur.

Rasa Candu Mempengaruhi Kehidupan Sosial

Tentu saja, bagi masyarakat yang mengalami kecanduan pasti perlahan namun pasti akan terpisah dari kehidupan sosial. Mereka akan betah untuk berlama – lama di depan gadget atau komputer, dan hanya bermain game online sepanjang hari.

Tidak hanya putusnya hubungan dengan teman, namun juga akan mempengaruhi hubungannya dengan orang tua. Umumnya anak yang kecanduan game online mampu menghabiskan waktunya lebih dari 10 jam perhari, untuk terus bermain game.

Jika mereka melarang untuk bermain game, maka rasa gelisah akan langsung muncul. Bahkan untuk beberapa kasus yang cukup parah, bukan hanya rasa gelisah yang muncul melainkan rasa amarah yang tak terkendali.

Seseorang yang memiliki rasa ketergantungan, kebanyakan akan mengalami pola pikir yang tidak produktif. Bahkan diantaranya cenderung lebih mengarah ke pikiran yang negatif, dan pola pikir inilah yang harus dihilangkan.

Peran orang tua pun cukup penting, untuk menanamkan bahwa sesungguhnya banyak hal menyenangkan diluar game online.

Melihat banyaknya kasus anak mengalami kecanduan game, cukup meresahkan orang tua. Apalagi saat ini cara berkomunikasi pun membutuhkan perangkat teknologi, sehingga cukup sulit untuk menarik teknologi dari anak.

Namun, orang tua dapat menggunakan cara pembatasan penggunaan teknologi pada anak. Langkah pertama yang harus dilakukan, tentu dengan tidak membiarkan anak anda terus bermain game di usia yang cukup muda.

To Top