Percakapan Nabi Idris dan Malaikat Izrail Ini Gambarkan Pedihnya Sakaratul Maut
Ilustrasi (Foto: justfloat.com)
in

Percakapan Nabi Idris dan Malaikat Izrail Ini Gambarkan Pedihnya Sakaratul Maut

Nabi Idris AS adalah rasul pertama yang ditugaskan untuk menyampaikan kebenaran tentang Allah SWT kepada kaumnya. Beliau adalah keturunan keenam dari Nabi Adam AS dan merupakan putra dari Qabil dan Iqlima, putra dan putri Nabi Adam.

Allah memberikan beberapa mukzijat kepada Nabi Idris, di antaranya Nab Idris merupakan manusia pertama yang bisa membaca tulisan dari pena. Beliau juga menguasai banyak ilmu pengetahuan, mulai dari ilmu perbintangan hingga ilmu menghitung. Nabi Idris juga disebut sebagai manusia pertama yang bisa menjahit pakaian.

Salah satu mukzijat lain yang dimiliki Nabi Idris adalah beliau bersahabat dengan malaikat pencabut nyawa, Malaikat Izrail. Mereka berdua suka ngobrol layaknya sahabat atas izin Allah tentunya. Hingga suatu ketika, malaikat maut merasa rindu kepada Nabi Idris karena sudah lama tidak bertemu.

Malaikat Izrail pun meminta izin kepada Allah untuk menemui Nabi Idris di bumi karena sangat rindu. Dan Allah pun mengizinkannya. Malaikat Izrail datang kepada Nabi Idris dengan menyamar jadi seorang pria. Singkat cerita, Nabi Idris pun berbincang dengan pria tersebut yang tak lain adalah Malaikat Izrail yang sedang menyamar.

Baca juga: Kisah Percakapan Allah dengan Bayi Sebelum Lahir ke Dunia, Menyentuh!

Setelah beberapa hari bersama, Nabi Idris mulai curiga dengan pria itu. Beliau pun bertanya kepada pria itu:

Nabi Idris: Ya Tuanku, siapa sebenarnya Anda?

Malaikat Izrail: Maaf Ya Nabi Allah, saya sebenarnya adalah Izrail.

Nabi Idris: Malaikat Izrail? Kau kah itu? Sang pencabut nyawa?

Malaikat Izaril: Benar Ya Idris.

Nabi Idris: Sudah empat hari engkau bersamaku, apakah engkau juga menunaikan tugasmu dalam mencabut nyawa makhluk di dunia ini?

Malaiakt Izrail: Wahai Idris, selama empat hari ini banyak sekali nyawa yang sudah saya cabut. Roh makhluk-makhluk itu bagaikan hidangan di depanku, aku mengambil mereka bagaikan seseorang yang sedang menyuap makanan.

Nabi Idris: Wahai Izrail, lantas apa maksud kedatanganmu kemari? Apakah engkau ingin mencabut nyawaku?

Malaikat Izrail: Tidak Idris, saya datang hanya untuk mengunjungimu karena saya rindu dan Allah mengizinkannya.

Nabi Idris: Wahai Izrail, saya punya satu permintaan dan tolong dikabulkan. Tolong cabut nyawa saya dan minta izin kepada Allah untuk mengembalikan nyawa saya. Aku hanya ingin merasakan sakaratul maut yang banyak orang katakan sangat pedih.

Malaikat Izrail: Sesungguhnya aku tidak mencabut nyawa seorang pun, melainkan atas izin Allah.

Allah mengabulkan permintaan Nabi Idris dan Malaikat Izrail mencabut nyawa Nabi Idris ketika itu pula. Setelah itu, Allah menghidupkan kembali Nabi Idris.

Setelah hidup kembali, Nabi Idris menangis sedih merasakan betapa sakit dan dahsyatnya sakaratul maut. Nabi Idris tak bisa membayangkan kalau umatnya harus mengalami sakit yang sama menjelang ajal. Tak ada kata-kata yang bisa menggambarkan bagaimana sakitnya sakaratul maut, Nabi Idris hanya bisa menangis sedih.

Dari kisah tersebut dapat disimpulkan kalau lepasnya nyawa dari raga adalah hal paling menyakitkan sepanjang hidup yang tidak ada seorang pun mampu menahan rasa sakitnya. Bahkan untuk orang beriman sekalipun tetap akan merasakan sakit yang sama, hanya saja mereka diperlihatkan sesuatu yang membahagiakan ketika sekarat, jadi rasa sakitnya terlupakan.

Oleh sebab itu mari kita tingkatkan iman dan taqwa kita karena malaikat maut selalu menguntit kita kemanapun kita pergi menunggu perintah dari Allah untuk mencabut nyawa.

Loading...