Kisah Haru Kepemimpinan Umar bin Khattab yang Patut Ditiru
in

Kisah Haru Kepemimpinan Umar bin Khattab yang Patut Ditiru

Umar bin Khattab adalah salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW yang sangat disegani dan ditakuti oleh kaum musryikin kala masa perkembangan Islam di Mekkah. Beliau adalah salah satu dari golongan yang dijamin akan masuk surga oleh Allah SWT.

Setelah meninggalnya Abu Bakar sebagai khalifah pertama, Umar ditunjuk untuk jadi khalifah kedua dan mendapat julukan Amirul Mukminin (pemimpin orang mukmin). Selama masa pemerintahannya, Islam berkembang sangat pesat dengan merebut sebagian wilayah Persia, serta mengambil alih Mesir, Palestina, Suriah, dan masih banyak lagi. Di bawah kepemimpinan Umar, pasukan Islam bahkan berhasil menaklukan pasukan Romawi yang terkenal sangat kejam dan ditakuti.

Umar menjalankan roda pemerintah berdasarkan pemahaman dari Al-Quran dan hadis. Beliau dikenal sebagai pemimpin yang tegas, adil dan ramah kepada rakaynya. Beliau juga tak akan segan menghukum rakyat yang melanggar peraturan.

Dari kisah Umar bin Khattab, ada banyak hikmah yang bisa diambil dari cara bagaimana beliau dengan baik dan adil menjalankan sistem pemerintahan.

1. Ikut merasakan penderitaan rakyatnya

Ketika Madinah dilanda musim paceklik yang sangat panjang, banyak rakyat Madinah yang meninggal karena kelaparan. Umar sangat sedih melihat rakatnya menderita dan dia terus berusaha untuk membantu rakyatnya sebisa mungkin, termasuk memberikan sebagian besar hartanya.

Umar bahkan bersumpah tidak akan makan daging dan minum susu sampai cobaan ini berlalu. Dia bahkan marah ketika diberi makan daging. Umar justru hanya meminta roti dan minyak zaitun saja. Umar mengatakan bagaimana bisa dirinya memahami penderitaan rakyatnya, bila dia sebagai pemimpin malah enak-enakan di atas penderitaan rakyat dengan memakan daging, sementara di luar sana banyak yang kelaparan.

Karena hanya makan roti dan minum minyak zaitun, wajah Umar terlihat pucat dan tubuhnya jadi lemah. Tapi dia tidak keberatan menanggung semua itu, dari pada nanti di akhirat harus menanggung siksa yang amat pedih.

2. Kisah Umar dan ibu pemasak batu

Umar selalu memanfaatkan sebagaian malamnya untuk berkeliling kota melihat kondisi rakyatnya secara tersembunyi. Dalam perjalanan Umar mendengar tangisan balita yang amat keras dari sebuah gubuk kumuh. Karena merasa khawatir, Umar pun kemudian mendekatinya dan menemukan seorang ibu sedang mengaduk makanan di dalam panci, sementara anaknya terus menangis.

Penasaran, Umar bertanya kepada janda itu kenapa anaknya menangis. Wanita itu menjawab, anaknya tidak sakit tapi ia menangis karena kelaparan. Umar pun merasa iba sekaligus heran kenapa makanan yang dimasak wanita itu dalam panci tak kunjung matang. Umar pun kemudian melihat sendiri apa yang dimasak janda itu. Rupanya bukan makanan yang dimasak, melainkan setumpukan batu.

“Kenapa engkau memasak batu?” tanya Umar.

“Aku tidak memiliki apapun untuk dimasak. Aku pun harus memasak batu untuk menghibur anakku. Ini adalah kesalahan Amirul Mukminin (Umar) karena tidak memperhatikan kondisi rakyatnya, padahal aku ini seorang janda,” jawab wanita itu karena ia tak tahu kalau pria yang berbicaranya dengannya adalah Umar.

Tak sedikitpun Umar marah mendengar perkataan janda itu, tapi dia malah semakin kasihan dan merasa bersalah. Umar pun menyuruh janda itu untuk tetap tinggal di tempatnya. Kemudian beliau segera pulang untuk mengambil sekantung gandum yang berat.

Kemudian dia memikul gandum itu dan berjalan jauh kembali ke tempat janda itu. Meskipun sangat kelelahan, Umar tetap kuat karena ini merupakan tanggung jawabnya sebagai seorang pemimpin.

3. Umar adalah pemimpin yang sederhana

Meskipun pasukan Islam berhasil mengalahkan kerajaan-kerajaan besar seperti Persia dan Romawi, namun Umar sebagai pemimpinnya tidak hidup dengan bergelimang harta seperti raja pada umumnya. Beliau adalah sosok pemimpin yang sangat sederhana, tidak membutukan istana dan juga pengawal.

Baca juga: Kisah Sahabat Nabi yang Rela Membunuh Ayahnya Sendiri Saat Perang Badar

Pakaiannya pun tidak sebagus para raja Persia atau Romawi, Umar selalu mengenakan pakaian lusuh seperti rakyat biasa. Tidak ada mahkota kecuali sorban di kepalanya untuk terhindari dari panasnya matahari.

Prajurit Romawi pun terkejut ketika menemui Umar. Mereka tertakjub melihat pemimpin Islam hidup sederhana tanpa ada pengawal ketika ditemui. Salah seorang panglima Persia pun sampai masuk Islam karena melihat sifat Umar yang rendah hati dan pemaaf.

4. Menghargai perbedaan keyakinan

Saat Umar mengunjungi Yerusalem yang ketika itu sudah direbut tentara Islam, Umar pun tetap mengizinkan para penduduk Yerusalem yang non muslim untuk menjalankan ibadahnya sesuai kepercayaannya. Bahkan dia akan menghukum orang Muslim yang berani mengusik keyakinan orang non muslim.

Saat di Madinah, Umar pernah bertemu dengan seorang kakek tua yang buta sedang mengemis di jalan. Umar bertanya kepada kakek itu tentang agamanya. Kakek itu menjawab kalau ia beragama Yahudi dan seorang ahli kitab. Ketika ditanya kenapa ia mengemis, kakek itu menjawab melakukan semua ini untuk membayar jizyah (pajak orang non-muslim).

Umar pun tersentuh mendengar perkataan kakek itu. Beliau kemudian memberikan bantuan kepada kakek itu berupa makanan dan pembebasan jizyah. Umar juga menyerukan untuk membebaskan pembayaran jizyah bagi orang non-muslim yang sudah tua dan tidak mampu lagi bekerja. Bahkan mereka diberi bantuan dari Baital Mal.

Karena kebijakan inilah, tak sedikit orang non-muslim yang kemudian memeluk Islam karena sifat rendah hati Umar.

5. Selalu bermusyawarah

Dalam riwayatnya, Umar adalah sosok pemimpin yang gemar bermusyawarah bersama para sahabat dan pejabat lainnya untuk mengambil keputusan. Meskipun Umar posisinya sebagai pemimpin, dia tidak merasa paling menang dalam mengambil keputusan untuk menyelesaikan suatu permasalahan. Beliau selalu memusyawarahkannya telebih dahulu.

Kadang kala saran Umar ada yang tidak cocok dan dibenarkan oleh para pejabat lainnya. Umar tidak marah pendapatnya dikritik kalau memang tidak cocok, justru dia akan berterima kasih karena pendapatnya bisa diperbaiki.

Itulah sedikit dari kisah kepemimpinan Umar bin Khattab yang sangat inspiratif dan patut kita tiru. Semoga kita bisa memetik hikmahnya dan belajar banyak dari akhlak Umar yang rendah hati.

Loading...