in

Kisah Miliuner Baik Hati Terlilit Utang Setelah Mengadopsi 75 Anak Terlantar

Li Li Juan (foto: Shanghaiist)

Kekayaan ternyata tidak bisa sepenuhnya membuat hati seseorang bahagia. Seseorang benar-benar bisa bahagia apabila di sekelilingnya ada orang-orang yang tulus mencintainya. Seperti yang dilakukan miliuner baik hati asal China ini yang rela terlilit utang demi merawat 75 anak adopsinya.

Li Li Juan dari Wu’an, Hebei, menjadi seorang miliuner pada tahun 1980-an berkat bisnis garmen yang sukses dijalankannya. Selama 19 tahun terakhir, dia telah mengadopsi 75 anak terlantar yang kebanyakan dari mereka sudah kehilangan orangtuanya atau yang ditelantarkan karena cacat.

Pada tahun-tahun awal sejak mengadopsi beberapa anak terlantar, perempuan berusia 46 tahun itu mampu menggunakan keuntungan dari investasinya di bidang pertambangan bijih besi serta tabungannya dari bisnis garmen untuk membesarkan anak-anak yang diadopsinya.

Seperti dilansir Shanghaiist, tambang tempat mata pencaharian Li ditutup karena perkembangan perkotaan pada tahun 2008. Sejak saat itu, Li mulai menjual properti dan barang-barang berharga untuk membiayai hidup anak-anak adopsinya.

Pada musim dingin tahun 2011, Li didiagnosis menderita limfoma atau kanker getah bening stadium awal. Dia menghabiskan waktu selama tujuh hari di rumah sakit dan memutuskan untuk pulang karena biaya perawatannya terlalu mahal. Dia lebih suka menghabiskan uangnya untuk mengurus anak-anak angkatnya daripada untuk mengobatinya.

Mengingat jumlah anak yang diadopsi semakin meningkat, keuangan Li semakin terpuruk. Sejak tahun 2011, biaya hidup untuk mengurus anak-anak jauh lebih besar dibandingkan dengan pendapatan Li. Meskipun sudah ada bantuan dari teman-teman dan badan amal, tetapi itu tetap tidak cukup.

Kondisi itu memaksa Li untuk meminjam uang dari orang lain. Tercatat, utangnya sekarang mencapai 2 juta yuan atau sekitar Rp 4 miliar lebih.

Anak kandung Li, Xiao Wen, menolak bertemu ibunya selama 10 tahun terakhir karena kecewa dengannya. Pada tahun 2004, Xiao mengalami cedera tulang belakang yang serius dan harus dioperasi, tetapi ibunya tidak ada di sana untuk menemaninya. Ketika itu Li sedang menemani anak angkatnya yang menderita hydrocephalus untuk menjalani operasi yang kedua di Shanghai.

Sejak keluar dari rumah sakit, Xiao benar-benar sakit hati dan menolak bertemu dengan ibunya sendiri serta lebih memilih tinggal bersama neneknya. Selama bertahun-tahun hubungan ibu dan anak itu masih belum bisa diperbaiki.

Li Jing Wen, seorang wakil dari Departemen Urusan Sipi Wu’An, mengatakan bahwa mengadopsi anak harus dilakukan melalui Pusat Kesejahteraan Sosial. Meskipun Li dengan sukarela mendirikan sebuah badan amal untuk menampung anak-anak terlantar, tapi badan amalnya itu tidak sesuai dengan hukum.

Oleh sebab itu, ketika ada orang yang murah hati mau mengadopsi salah satu anak angkat Li, tidak ada jalan lain selain menolaknya karena tidak sesuai dengan persyaratan hukum.

Ditambah lagi, kondisi pendanaan anak adopsi semakin meningkat seiring berjalannya waktu dan bertambahnya anak-anak yang diadopsi.