Kisah Keluarga Muslim Menyelamatkan Keluarga Yahudi Saat Ada Pembantaian

Keluarga Muslim dan keluarga Yahudi beserta anak-anak mereka sedang jalan bersama di Yugoslavia (Foto: Elitereaders)

Pada tahun 1941, pasukan Jerman menginvasi Yugoslavia dan berhasil merebut Kota Sarajevo. Pasukan Jerman kemudian mendirikan Gestapo atau polisi rahasi Nazi di kota tersebut untuk melakukan tugas kotornya.

Di kota tersebut hidup sebuah keluarga Muslim yang disebut Hardaga. Keluarga ini hanya terdiri dari Mustafa dan istrinya Zejneba, serta kerabatnya yang lain. Mereka memiliki teman yang merupakan seorang Yahudi bernama Yosef Kabiljo, yang tak lain adalah teman bisnisnya.

Ketika Nazi yang dimpimpin Adolf Hitler mulai melakukan pembantaian terhadap orang Yahudi di Kota Sarajevo, keluarga Hardaga membantu keluarga Kabiljo beserta istrinya, Rifka Kabiljo dan putrinya bersembunyi dari petugas Gestapo yang memeriksa setiap dokumen penduduk.

Keluarga Hardaga menyembunyikan keluarga Kabiljo di belakang toilet rumah mereka saat ada pemeriksaan. Berkat bantuan dari keluarga Hardaga, akhirnya keluarga Kabiljo berhasil melarikan diri ke Mostar, Bosnia, yang berada di bawah pemerintahan Italia ketika itu.

Gestapo (Foto: Holocaust Education and Archive Research Team)

Yosef kemudian memutuskan untuk tinggal sementara di sana, tapi pada akhirnya ia tertangkap dan dikirim ke kamp kerja paksa. Tahu temannya ditangkap, Zejneba selalu mengirimkan makanan ke kamp tempat Yosef ditahan. Tak lama kemudian, Yosef berhasil melarikan diri dari kamp tersebut dan kembali ke rumah keluarga Hardaga.

Namun, Nazi mulai mencium kebohongan dan mengeksekusi salah satu keluarga Hardaga bernama Ahmed Sadik karena telah membantu memalsukan dokumen anggota keluarga Kabiljo. Sementara keluarga Kabiljo berhasil selamat setelah melarikan diri ke Yerusalem.

Setengah abad kemudian, sebuah tragedi mempertemukan kedua keluarga ini kembali. Pada tahun 1992, Bosnia berada di tengah-tengah perang dengan Yugoslavia. Kemudian pasukan Serbia berhasil menaklukan Kota Sarajevo dan melakukan pembantaian terhadap penduduk kota tersebut.

Keluarga Hardaga benar-benar dalam keadaan bahaya dengan bersembunyi di ruangan bawah tanah selama perang. Mereka tetap tinggal di sana dan berharap ada bantuan datang, sampai ada seorang jurnalis Yerusalem membantu mereka dengan mengirimkan pesan harapan.

Berita tersebut kemudian sampai ke telinga keluarga Kabiljo yang tinggal di Yerusalem. Ingat teman Muslim-nya tinggal di wilayah perang, keluarga Kabiljo kemudian menyuruh jurnalis tersebut untuk mencari keluarga Haradaga.

Sara Pecanec (Foto: Elitereaders)

Kemudian keluarga Kabiljo meminta bantuan kepada Perdana Menteri Israel untuk mengerahkan misi penyelamatan. Hingga akhirnya Zejneba yang sudah berusia 75 tahun bersama putrinya, Sara Pecanec berhasil selamat dan mengungsi ke Yerusalem. Kemudian kedua keluarga tersebut dipertemukan kembali.

Sungguh mengharukan bukan kisah dua keluarga beda keyakinan ini yang saling tolong menolong di saat susah. Keluarga Kabiljo tak lupa bahwa dulu keluarganya pernah diselamatkan oleh keluarga Hardaga, sekarang giliran mereka membalas budi.

Sumber: Elitereaders
X