Jangan Simpan Kejelekan Orang Lain Dalam Hati, Sekali-Kali Kebaikannya

(Foto: huffingtonpost.com)

Memang mudah sekali menilai dan menggali kejelekan orang lain semulus kita menatap ke depan. Tapi untuk menilai kejelekan sendiri, terkadang sulitnya seperti berjalan ke depan tapi sambil menoleh ke belakang.

Walau kita menemukan kejelekan diri sendiri, kita pasti menyembunyikannya karena takut ketahuan orang lain, sementara kejelakan orang lain, walau kecil, kita ceritakan dan kita besar-besarkan kepada orang lain.

Yang lebih herannya lagi, kenapa kita suka menyimpan kejelekan orang lain dalam hati kita, kenapa kita ikut-ikutan ambil susah dan ambil pusing dengan kejelakan yang orang lain lakukan?

Misalnya saja kamu punya tetangga yang memiliki kebiasaan buruk, seperti suka pulang larut malam, jarang bersosialiasi dengan kamu, nanya aja ketika lewat tidak sama sekali, atau terlihat seperti seorang penjahat.

(Foto: flintcps.com)

Tanpa kamu sadari, hati kamu suka ikut-ikutan resah dan mungkin mengomentari prilaku tentangga kamu. "Kenapa sih dia, kebiasaannya kok begitu amat sih. Amit-amit deh kalau jadi dia!"

Padahal kamu sendiri tidak kenal betul dengan tetangga kamu itu, apalagi akrab, tapi tanpa kamu sadari kamu sudah menyimpan keburukan tetangga kamu. Bahkan, kamu sampai sulit tidur karena terus memikirkan kejelakan tetanggamu itu.

Daripada ikut-ikutan susah karena menyimpan kejelakan orang lain, coba simpan kebaikan orang lain. Seburuk-buruknya kelakuan seseorang, masih ada kebaikan dalam dirinya. Nah, kenapa kita tidak menyimpan kebaikannya itu?

Jika hati kita menyimpan kebaikan orang lain, maka kita bisa termotivasi untuk melakukan kebaikan yang orang lain lakukan, bahkan kita akan merasa iri tidak bisa melakukan kebaikan yang orang lain lakukan. Kita juga tidak akan menyangka orang lain itu selamanya buruk, dan tentunya hati tidak akan ikut-ikutan susah.
X