Kisah Dua Pengemis Yang Bisa Pergi Naik Haji Ke Tanah Suci

Ilustrasi naik haji (foto: hipwee.com)

Setiap Muslim pasti punya mimpi bisa berangkat ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji. Meski rukun Islam yang ke-5 ini diwajibkan bagi yang mampu saja, baik dari ekonomi dan fisik, tapi nyatanya banyak orang yang kurang dari segi ekonominya tapi mampu berangkat naik haji.

Hal itu dibuktikan dua orang pengemis ini yang bisa berangkat naik haji ke Tanah Suci. Meski pekerjaan mereka cuma mengemis, tapi mereka memiliki tekad yang kuat dan tidak lupa juga selalu senantiasa berdoa.

Setelah sekian lama menabung dan menunggu, akhirnya para pengemis ini bisa berangkat naik haji. Berikut simak kisah dua pengemis yang bisa pergi naik ke Tanah Suci, yang dikutip oleh Wow Menariknya.

2. Pengemis asal Pasuruan yang menabung setiap hari agar bisa naik haji

(foto: beritajatim.com)

Muhammad Ansori, pengemis asal Dusun Lojok, Kelurahan Kepel, Kecamatan Bugulkidul, Kota Pasuruan, akhirnya bisa mewujudkan impiannya pergi ke Tanah Suci.

Keinginannya untuk pergi naik haji sudah muncul sejak puluhan tahun lalu. Ditanya bagaimana ia bisa mendapat uang puluhan juta untuk ongkos naik haji, Ansori menjawab bahwa ia telah menyisihkan uangnya setiap hari dari penghasilannya sebagai pengemis.

Selembar demi selembar, Ansori menitipkan uang tabungannya ke tetangganya, Siti Fatimah. Hingga pada tahun 2009, tabungannya yang dititipkan di Fatimah sudah mencapai Rp 20 juta. Ansori semakin semangat menabung sampai akhirnya pada tanggal 8 September 2015, ia pergi ke Tanah Suci untuk beribadah haji.

1. Pengemis dan istrinya pergi naik haji bersama

(foto: Saudi Gazette)

Mohammed Saeed, pria berusia 70 tahun asal India ini bukanlah seorang yang berlimpah harta yang bisa pergi ke Tanah Suci semaunya. Ia hanya seorang pengemis jalanan yang memiliki mimpi untuk beribadah haji.

Hingga pada tahun 2014, Saeed dan istrinya bisa mewujudkan impian mulianya pergi ke Tanah Suci setelah puluhan tahun ia mengumpulkan uang. Bahkan, Saeed mengaku rela menjual ladang sempit miliknya. Padahal ladang itu merupakan satu-satunya sumber penghidupan keluarganya.

Mereka rela melakukan semua itu karena hanya ini kesempatan bagi mereka untuk bisa berangkat naik haji mengingat usia mereka yang semakin bertambah tua. Ia dan istrinya sangat yakin kalau Allah akan mengganti ladangnya yang ia jual ketika pulang dari Tanah Suci.
X