Seandainya Koruptor Dieksekusi Mati Seperti Ini, Pasti Pada Kapok!


Sejak pemerintahan Jokowi, eksekusi mati mulai gencar dilakukan, tapi baru dilakukan kepada para pengedar narkoba kelas berat. Namun untuk para koruptor kelas berat, masih seperti biasa, hanya dijatuhi hukuman penjara saja.

Karena hukuman untuk koruptor masih terbilang ringan, tak heran jika minat seseorang untuk mencuri uang rakyat malah semakin meningkat bukannya berkurang. Beberapa faktor menyebabkan hukuman mati bagi para koruptor tidak diterapkan di Indonesia, di antaranya dengan dalih Hak Asasi Manusia.

Yang jadi pertanyaan, apakah para koruptor tidak melanggar Hak Asasi Manusia? Coba ingat-ingat, mencuri uang sebesar miliaran hingga triliunan yang seharusnya digunakan untuk pembangunan dan kesejahteraan masyarakat, malah dicuri begitu saja.

Pada akhirnya banyak rakyat yang menderita, kelaparan, bahkan sampai meninggal. Jika dilihat lebih jauh lagi, koruptor telah membuat banyak orang mati pelan-pelan.

Kembali lagi ke topik, satu-satunya cara agar koruptor bisa diberantas adalah dengan menerapkan hukuman yang berat, salah satunya eksekusi mati.

Jika seandainya para koruptor dihukum mati seperti beberapa eksekusi mati dari berbagai belahan dunia ini, pasti orang yang akan nyuri uang rakyat akan berpikir dua kali. Metode hukuman mati ini terbilang cukup sadis dan masih diterapkan hingga sekarang.

Para koruptor sedang ditembak mati tanpa ampun di China.


Seseorang dihukum pancung di Arab Saudi. Jika koruptor dihukum pancung, pasti pada kapok. Masa ada orang yang mau kaya tapi kepalanya tidak ada.


Eksekusi mati yang satu ini disebut Garrote, di mana terpidana mati akan dicekik lehernya sampai tewas. Coba yang koruptor dicekik lehernya, masih bisa bicara tidak?


Seorang pria dibakar hidup-hidup oleh ISIS. Duh, orang yang korupsi pasti berpikir dua kali jika hukuman matinya seperti ini.


Seorang pria dilempari kepalanya dengan batu sampai mati karena telah berzina. Ih sadis banget.



X