Jangan Mencharge Smartphone Anda Sampai 100 Persen, Ini Alasannya!

Ilustrasi mencharge smartphone (foto: extremetech.com)
Kebanyakan orang pasti mengisi baterai smartphone nya sampai 100 persen dengan dalih agar bisa bertahan lama saat digunakan seharian penuh. Tapi sebenarnya, mengisi baterai sampai terisi penuh itu merupakan kesalahan besar.

Cadex, sebuah perusahaan baterai yang memiliki situs bernama Battery University, menjelaskan secara detail tentang cara kerja baterai Lithium-ion (Li-ion) yang terdapat dalam smartphone dan juga bagaimana cara mengisinya.

Banyak pengguna smartphone yang mencharge ponsel mereka semalaman, agar ketika bangun nanti sudah terisi penuh dan siap digunakan. Namun, Battery University mengatakan kalau tindakan seperti itu justru bisa membuat baterai jadi rusak dalam jangka panjang.

Baterai Li-ion sangat sensitif terhadap stres, yang bisa mempengaruhi kandungan kimia dalam baterai. Ketika smartphone Anda sudah terisi penuh sampai 100%, tapi Anda tetap mencolokan kabel pengisi dayanya, hal itu dapat menambah tingkat stres baterai smartphone Anda yang pada akhirnya bisa drop.

(foto: tlists.com)

Sebaliknya, Battery University menyarankan untuk memberikan istirahat pada baterai. "Ketika sudah terisi penuh, lepaskan baterai dari perangkat pengisian. Ini seperti relaksasi otot-otot setelah latihan berat," tulis situs Battery University, seperti dilansir dari Tech Insider.

"Li-ion tidak perlu terisi sampai penuh. Bahkan lebih baik untuk tidak diisi sampai penuh karena tegangan tinggi dapat memberikan tekanan pada baterai."

Idealnya, Anda harus mulai mengisi daya baterai smartphone Anda ketika sudah 10%. Jadi, kalau masih 40% atau 60%, Anda jangan dulu mengisi daya baterainya. Hal itu dilakukan agar baterai dapat bertahan lama.

Terakhir, Anda harus menjaga smartphone Anda di tempat yang dingin karena baterai sangat sensitif terhadap tempat yang panas.
X