Kisah Wanita Muslim Indonesia Sholat Tarawih Di Pastoran Katolik

Ade Siti Barokah (Foto: Facebook)

Dia adalah Ade Siti Barokah, wanita muslim asal Indonesia yang menceritakan pengalaman menariknya sholat tarawih di sebuah pastoran (tempat penginapan bagi pastor Katolik) di Jerman.

Lewat akun Facebook-nya, Siti menceritakan secara detail bagaimana ia bisa sampai sholat tarawih di Chatholic Vicarage. Saat tiba di Berlin, Siti bertemu dengan seorang pastor asal Flores, Indonesia yang bernama Paskalis.

Siti memanggilnya dengan sebutan Romo Paskalis, karena ia sudah 16 tahun memimpin jemaat Kristen Katolik di Berlin. Pastor itu begitu baik sampai menawarkan Siti untuk bermalam di pastoran. Hingga akhirnya ia juga sholat tarawih di sana.

Berikut cerita lengkap Siti yang diunggah ke Facebook pada 7 Juni 2016 lalu:

Tarawih di Pasturan
My Tarawih Prayer in Catholic Vicarage

Cerita berlanjut. Masih ingat kan bagaimana saya disayangi seorang suster tua di Polandia yang membuatkan saya coklat panas dan biskuit, saat saya berteduh di katedral? Nah ketika tiba di Berlin, saya bertemu dengan Romo (pastor) asal Flores, Indonesia, yang sudah 16 tahun memimpin jemaat di Jerman sini.

Saya panggil beliau Romo Paskalis, pastor kepala di paroki ini. Beliau bukan orang baru buat saya. Kami pernah bertemu di Amerika ketika saya mendapat beasiswa dari pemerintah Amerika dan beliau juga sedang belajar di seminari di kota kecil dimana saya ditempatkan. Waktu itu saya dan mbak Yanti Linehan sempat menghadiri acara di seminari tersebut.

Beliau sekarang kembali ke Jerman. Tapi saya sama sekali tidak tahu kalau beliau di Berlin. Setahu saya beliau di Dresden atau entah dimana. Adalah 'adikku' Frater Fransiskus yang menyambungkan kembali dengan Romo Paskalis. Betapa kagetnya saya ketika turun bus dari Polandia beliau sudah menunggu saya di stasiun bus.

Niatnya, hari itu saya akan menginap di bandara karena pesawat saya ke Amsterdam sangat pagi. Daripada menginap di hostel mahal dan pagi kerepotan ke bandara lebih baik menunggu pesawat di bandara kan seperti biasa? Tapi Romo tidak sependapat. Menurutnya terlalu riskan untuk saya bermalam di sana.

Lalu dengan sangat baik hati beliau meminta saya bermalam di pastoran. Melihat keraguan saya, beliau bilang, "Jangan khawatir, ada banyak kamar untuk para tamu (guest house) dan jangan dibayangkan hanya ada pastor di situ".

Saya tersentuh. Siapalah saya ini? Mendapat penghormatan menginap di guesthouse tempat biasa uskup bermalam.

Kawasan pasturan sangat indah, teduh dan luas. Ada gereja besar dan kapel kecil yg cantik. Kamar-kamar tamu cukup banyak: bersih dan wangi dengan linen, handuk dan peralatan mandi yg rutin diganti.

"Itu ada minuman sekedarnya. Bila perlu untuk sahur jangan sungkan2. Di bawah ada dapur".

Saya tercenung. Beliau tahu hari ini saya mulai puasa dan sebagai Muslim saya wajib menjalankannya.

Kamar para pastor ada di bawah, di lantai 1. Sedang guesthouse ada di lantai 3. Saya tak mau merepotkan mereka di pagi buta jadi saya menyiapkan sahur sebelum tidur.

Setelah mengunjungi beberapa tempat menarik dan mengobrol saya masuk kamar. Lalu dengan aplikasi di hp saya mencari arah kiblat dn bersiap menjalankan tarawih.

Saya menggelar sajadah, mengheningkan diri dan mensyukuri persaudaraan kami: seorang musafir Muslim dan Pastor Katolik.

Malam ini, shalat tarawih pertama di bulan suci saya dirikan di pasturan. Allah ada dimana-mana, di setiap jengkal tanahNya. Kebaikan ada dimana-mana. Saudara saya dimana-mana. Sungguh, saya adalah musafir yang beruntung.

Terima kasih Pastor Paskalis, Frater Fransiskus dan PastorEdmundus Sonny de Classs untuk persaudaraan ini.

(Foto: Facebook)

Sejauh pantauan Wow Menariknya, postingan tersebut sudah mendapat lebih dari 450 like dan telah dibagikan lebih dari 11.000 kali. Banyak netizen yang terharu dengan kisah Siti.

"Terharu membaca kisah ini. Semoga lebih banyak orang mengalami tanpa memandang latar belakang apa pun. Kemanusiaan membuat perbedaan menjadi indah. Selamat berpuasa mbak," tulis komentar akun Kosmas Lawa Bagho.

"Saling menghormati dalam perbedaan agama, dan itulah indahnya. Hidup akan terasa damai," tulis komentar akun Lusia Lajar.

"Indahnya kebersamaan," tulis akun Richard Huagalung.

Saling menghargai perbedaan keyakinan dan bisa hidup rukun di antara perbedaan agama memang bisa mendatangkan keindahan dalam hidup.
X