Di China, Tahanan Politik Yang Dieksekusi Akan Diambil Organ Tubuhnya

(Foto: Nextshark)

Sekelompok peneliti mengklaim bahwa praktik pengambilan organ dari tahanan yang dieksekusi mati di China masih ada meski pemerintah telah berjanji untuk membrantas praktik ini sejak tahun 2009 lalu. Tak hanya tahanan biasa, tahanan politik pun juga diambil organ tubuhnya.

Pemerintah China dituduh mengumpulkan organ tubuh dari tahanan yang sudah dieksekusi untuk memenuhi permintaan rumah sakit yang semakin meningkat, demikian seperti dilaporkan Quartz. Namun tuduhan itu mendapat bantahan dari pemerintah.

Dalam laporan yang terdiri dari 718 halaman yang diterbitkan oleh tim pembela hak asasi manusia, mengungkapkan bahwa rumah sakit di China telah melakukan prosedur transplantasi dengan atau tanpa izin resmi untuk melakukannya.

Setelah nomor organ yang ditransplantasi dilacak, terdapat 164 rumah sakit di China yang memiliki izin resmi untuk melakukan transplantasi, sementara 712 rumah sakit lainnya tetap melakukan prosedur ini meski tidak memiliki izin.

"Meskipun tidak disetujui oleh Departemen Kesehatan, banyak fasilitas ini belum menghentikan kegiatan transplantasi mereka dan beberapa yang tidak disetujui memiliki volume transplantasi yang signifikan," tulis laporan tersebut.

(Foto: Nextshark)

Menurut data yang diperoleh situs berita milik pemerintah, Xinhua, melaporkan hanya ada 10.000 transplantasi organ yang dilakukan pada tahun 2015 lalu. Namun, angka itu dibantah oleh para peneliti dalam laporannya.

Para peneliti menegaskan bahwa semua rumah sakit, baik yang punya atau tidak punya izin, telah melakukan prosedur transplantasi sebanyak 60.000 sampai 100.000 kali setiap tahunnya. Kebanyakan organ tubuh yang diambil berasal dari para tahanan yang dieksekusi, perbedaan agama, atau politik.

Tak hanya tahanan biasa yang diambil organ tubuhnya, tahanan politik yang dieksekusi pun juga diambil organ tubuhnya.

Pada hari Kamis (23/6) kemarin, para peneliti bersaksi di Gedung Komite Luar Negeri AS untuk menceritakan pelanggaran hak asasi yang dilakukan China.

Sumber: Nextshark
X