5 Kebiadaban Yang Dilakukan Polisi Jepang Selama Perang Dunia II

Kempetai (Foto: Dok)

Jepang memiliki kelompok polisi militer yang disebut Kempetai. Organisasi ini pertama kali dibentuk pada tahun 1881 dan memiliki tugas yang sangat kejam, berbeda jauh dari polisi pada umumnya.

Semasa Perang Dunia II, mereka melakukan penyiksaan dan pembunuhan terhadap penduduk secara keji. Diperkirakan ada jutaan orang yang tewas akibat ulah biadab polisi Kempetai ini.

Ketika Jepang menyerah terhadap sekutu, banyak dokumen yang menjelaskan kekejaman Kempetai ketika itu. Dilansir dari Listverse dan Boombastis, berikut daftar kekejaman polisi Jepang tersebut yang terjadi selama Perang Dunia II.

5.  Bridge House

(Foto: Listverse)

Pada tahun 1937, Jepang menguasai Kota Shanghai di China. Bagi siapa saja yang berani menyuarakan protes anti-Jepang, maka ia akan diadili dan dihukum dengan keji.

Di sini, Kempetai bertugas memburu para jurnalis dan organisasi Huangdao hui yang menyebarkan propoganda anti-Jepang kepada seluruh penduduk Shanghai. Ratusan orang yang dianggap membangkang Jepang berhasil ditangkap, dan mereka dimasukan ke dalam sebuah rumah bernama Bridge House.

Beberapa dari mereka ada yang diadili terlebih dahulu kemudian disiksa, tapi ada juga yang langsung ditembak mati di tempat karena tidak mau mengakui kesalahannya.

4. Kikosaku

(Foto: Listverse)

Ketika Jepang masuk ke Pulau Jawa, banyak orang keturunan Belanda-Indonesia dan China yang ditangkap tanpa alasan jelas oleh Kempetai, terutama mereka yang memiliki pengaruh besar.

Mereka yang ditangkap akan dikenai Kikosaku, hukuman eksekusi mati tanpa pengadilan, karena dianggap sangat loyal dengan Belanda. Ribuan orang meninggal akibat hukuman Kikosaku ini.

3. Pembunuhan Berantai Sandakan

(Foto: Listverse)

Sekitar tahun 1943, banyak sekali tentara sekutu yang ditangkap oleh pasukan Jepang. Sebagian besar dari mereka adalah tentara Australia.

Jepang membawa sekitar 1.500 tawanan perang ini ke pelabuhan Sandakan di Kalimantan. Mereka dibawa di dalam kandang kayu yang sangat sempit seperti seekor hewan.

Ketika sampai, tawanan perang itu dijadikan budak untuk bekerja di ladang pengeboran minyak mentah. Para tawanan ini bekerja tanpa ada makanan yang cukup, sehingga kebanyakan dari mereka meninggal karena kekurangan gizi dan sisksaan.

Diperkirakan dari 1.500 tawanan perang, hanya enam orang yang berhasil selamat hidup-hidup dari siksaan polisi Jepang itu.

2. Pembunuhan Berantai Sook Ching

(Foto: Dok)

Saat Singapura jatuh ke tangan Jepang, siapa saja pria yang berusia 15 sampai 50 tahun diminta untuk menyatakan keloyalan mereka terhadap Jepang. Jika ditanya tidak bisa atau salah mengatakan sesuatu, maka ia akan langsung dieksekusi mati.

Dalam beberapa bulan saja, ada sekitar 30.000 orang yang dibunuh dengan cara keji. Kebanyakan dari mereka yang dibunuh berasal dari kaum terpelajar. Pembantaian ini sekarang diperingati sebagai Singapore's Schindler.

1. Departemen Pencegahan Epidemi

(Foto: Listverse)

Kempetai memiliki banyak sekali lembaga yang memiliki tugas khusus, salah satunya Unit 731. Unit ini berisi dari kalangan dokter dan ilmuwan yang memiliki misi mengembangkan senjata biologi dan kimia.

Saat Perang Dunia II, Jepang membangun ratusan fasilitas pengembang ini dalam sebuah kamp kosentrasi. Para Kempetai biasanya menculik penduduk atau tawanan perang untuk dimasukan ke dalam kamp ini.

Kemudian mereka akan dijadikan objek uji coba. Tubuh tawanan akan sengaja diberi racun sehingga menimbulkan korban jiwa yang tak terhitung lagi jumlahnya. Eksperimen kejam ini dilakukan secara tersembunyi dengan dalih untuk mencegah adanya epidemi berbahaya.
X