5 Fakta Mencengangkan Tentang Prostitusi Di Era Victoria

Ilustrasi wanita Era Victoria (foto: fashionmike.com)

Era Vicoria merupakan era pemerintahan Ratu Victoria dalam sejarah Britania Raya yang berlangsung dari tahun 1837 sampai kematiannya pada tahun 1901. Di era ini, prostitusi juga sudah sangat marak bahkan lebih banyak dibandingkan dengan zaman sekarang.

Tercatat, ada sekitar 80.000 perempuan bekerja sebagai pelacur di London, belum kota-kota lainnya. Ini membuktikan bahwa seks sudah jadi budaya yang begitu kental ketika itu. Wanita yang jadi pelacur di Era Victoria disebut "wanita jatuh" karena mereka adalah orang terhormat yang seharusnya tidak berkerja seperti itu.

Namun faktanya, prostitusi benar-benar dilegalkan ketika Era Victoria. Hal ini juga memungkinkan perempuan untuk mendapat penghasilan besar yang belum pernah mereka dapatkan sebelumnya. Selain itu masih ada fakta-fakta lainnya tentang prostitusi di Era Victoria, yang dilansir Wow Menariknya dari Listverse.

5. Prostitusi adalah pekerjaan dengan bayaran paling mahal

(foto: listverse.com)

Kebanyakan pekerjaan untuk wanita pada Era Victoria memiliki upah yang rendah, seperti pembantu rumah tangga, buruh pabrik dan lainnya. Tetapi, prostitusi merupakan satu-satunya pekerjaan untuk wanita yang memiliki bayaran paling mahal.

Penghasilan para pelacur jauh lebih besar jika dibandingkan dengan wanita berpendidikan yang memiliki kemampuan dalam berbisnis. Jadi, jika wanita cantik ditambah memiliki tubuh yang indah di Era Victoria, tidak perlu khawatir lagi soal uang.

4. Pelacur memiliki tiga tingkatan

(foto: theshiftinconsciousness.com)

Semua pelacur harus melakukan pekerjaan yang sama, yaitu memuaskan birahi pria hidung belang. Tapi di Era Victoria, pelacur memiliki tiga tingkatan, yakni kelas terendah, kelas menangah, dan kelas atas.

Kelas terendah adalah perempuan muda yang bekerja di rumah bordil. Mereka sering dipaksa untuk melayani pria yang sering tinggal di daerah kotor. Sementara kelas menangah adalah perempuan mandiri yang memiliki rumah sendiri. Anehnya, pelacur kelas menengah bisa memilih kliennya sendiri sesuai yang disukainya.

Dan kelas atas adalah perempuan yang cantik dan berpendidikan yang hanya akan melayani pria berpendidikan tinggi pula, yaitu bangsawan dan anggota parlemen. Namun kebanyakan dari mereka menikahi pria kaya raya.

3. Suami izinkan istri untuk jadi pelacur

(foto: listverse.com)

Banyak keluarga bawah tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Hal itu memaksa wanita yang sudah menikah untuk mencari sampingan agar bisa membantu suaminya, salah satunya dengan jadi pelacur.

Suami di Era Victoria mengizinkan istrinya untuk tidur dengan pria lain demi mendapatkan uang. Bahkan, 50 persen dari ibu rumah tangga pada Era Victoria dilaporkan bekerja sebagai pelacur. Dalam beberapa kasus, suami berperan sebagai mucikari, menawarkan istrinya sendiri ke pria hidung belang.

2. Kebanyakan pelacur adalah wanita berpendidikan

(foto: listverse.com)

Pada tahun 1800-an, banyak wanita yang sebenarnya tidak mendapat pendidikan formal, tapi kebanyakan dari mereka mendapat bimbingan langsung untuk belajar tentang keterampilan sosial, etika, menulis dan hal lainnya.

Sayangnya, semua keterampilan itu tidak bisa digunakan untuk mencari nafkah, sehingga kebanyakan wanita berpendidikan lebih memilih jadi pelacur.

1. Prostitusi anak kecil dilegalkan

(foto: listverse.com)

Selama Era Victoria, anak yang baru 11 tahun sudah bisa dikerjakan sebagai pelacur. Mirisnya lagi, banyak orang tua yang rela menjual anaknya sendiri untuk dijadikan pekerja seks demi mendapat uang tambahan.

Tidak seperti pelacur dewasa, pelacur anak-anak akan diberikan obat sejenis obat bius agar ia tak sadar ketika pria hidung belang merenggut jati dirinya.
X