4 Tradisi Unik Di Indonesia Saat Gerhana Matahari

Tradisi memukul kaleng (foto: metrotvnews.com)

Pada Rabu, 9 Maret 2016. Gerhana Matahari Total sudah melintasi 12 provinsi di Indonesia. Seperti Bengkulu, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Belitung, Jambi, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, dan Maluku Utara.

Saat ini gerhana matahari total dianggap sebagai fenomena alam. Namun, bagi masyarakat Indonesia pada zaman dulu, gerhana matahari total ini dianggap sebagai peristiwa yang menakutkan sehingga memunculkan mitos dan takhayul.

Oleh karena itu, banyak masyarakat Indonesia yang melakukan tradisi-tradisi unik dalam menyambut Gerhana Matahari Total, yang diturun-menurunkan dari nenek moyang mereka. Langsung saja, berikut tradisi-tradisi unik di Indonesia untuk menyambut Gerhana Matahari Total.

4. Tradisi Meramal dan Garantung

(foto: budaya-indonesia.org)

Masyarakat di Kalimantan Tengah memilki tradisi meramal pada saat menyambut gerhana matahari. Ada kepercayaan di kalangan masyarakat bahwa gerhana matahari total adalah pertanda akan terjadinya peristiwa besar.

Menurut kepercayaan warga setempat, ketika terjadi gerhana matahari total itu adalah akibat dari perkelahian surya dengan bulan. Dan dengan memukul sebuah alat musik tradisional daerah setempat itu, akan mengakibatkan kegaduhan yang dipercaya dapat melerai dari perkelahian surya dengan bulan.

3. Tradisi Memukul Kaleng

(foto: metrotvnews.com)

Tradisi untuk menyambut gerhana matahari dengan memukul benda-benda agar menimbulkan suara nyaring juga ada di Nusa Tenggara Timur. Penduduk di Pulau Timor akan memukul kaleng-kaleng bekas. Suara nyaring yang ditimbulkan itu dipercaya dapat mempercepat proses terjadinya gerhana matahari. Kebiasaan itu juga dilakukan pada saat gerhana bulan.

2. Tradisi Gejong Lesung

(foto: kidnesia.com)

Gejong lesung adalah tradisi khas masyarakat di Yogyakarta pada saat proses gerhana terjadi. Lima sampai enam orang memukuli lesung (tempat menumbuk padi) dengan alu (kayu penumbuk) sehingga menimbulkan suara yang berirama.

Dalam kepercayaan masyarakat setempat, gerhana terjadi diakibatkan matahari dimakan raksasa Kala Rahu yang mencuri air suci yang bisa memberikan hidup abadi. Namun saat itu, air suci itu belum sempat ditelannya, kepalanya terpenggal oleh Bhatara Wisnu, sehingga membuat Kala Rahu marah dan membalas dendam dengan memakan matahari.

Lesung padi itu mewakili tubuh Kala Rahu, sehingga memukulinya dengan menggunakan alu dianggap bisa membuat kepala Kala Rahu akan segera memuntahkan matahari.

1. Tradisi Dolo-Dolo

(foto: antarjatim.com)

Tradisi dolo-dolo adalah memukul kentongan dari bambu secara bersama-sama. Saat gerhana, kentongan dipukul hingga matahari kembali terang.

Konon masyarakat Maluku Utara mempercayai gerhana matahari terjadi akibat seekor naga memakan matahari hingga tidak lagi mengeluarkan cahaya. Untuk dapat mengeluarkan matahari dari mulut sang naga itu, masyarakat setempat akan membuat kebisingan dengan memukul kentongan dan memukul semua alat dapur yang dapat mengeluarkan kebisingan agar dapat menghentikan naga itu memakan matahari.

Sumber: segiempat.com
X