CERITA SEDIH: Mungkin Kalian Akan Bahagia Jika Tanpa Aku

Ilustrasi (foto: themominmmemd.com)

Matahari menjelma masuk kedalam kamarku yang pemiliknya masih tertidur lelap. Hingga aku terbangun karena silaunya sinar yang menerpa mataku.

“Hmm, udah pagi toh” ucapku pada diri sendiri,

Aku bergegas mandi dan memakai pakaian sekolahku. Dengan aksesoris biru yang lengkap, akupun melangkah ke ruang makan untuk sarapan.

“Wah ada ayam bakar nih. Heem maknyus” ucapku seraya menduduki kursi favoritku.
“Dasar gak sopan…” sindir Ayah padaku.
“Makanya, jangan nyerocos aja dong jadi cewek.” timpal kakakku, Virgo.
“Iya Dera, kamu duduk dulu baru ngomong, kan ada papa sama mama disini. Jadi sopan dikit Ra.” Tambah Kak Dara.
“Iya Dera, betul tuh kata Dara. Contoh dia.” Tambah ibu lagi.
“Ok, aku pergi. Silahkan makan!!” ucapku dengan sinis.

Akupun bergegas naik menuju kamarku tanpa sedikitpun menyentuh makanan di sana. Padahal sebenarnya maagku kambuh dan rasanya sangat perih. Tapi lebih perih lagi disaat aku tak pernah mendapatkan kasih sayang dari semua orang yang aku sayangi.

Setibanya di sekolah, aku segera menuju ruangan tempatku ulangan. Jadwal hari ini adalah matematika dan bahasa Inggris. Pelajaran menghitung yang sangat menyebalkan untukku. Karena aku tak seperti kak Dara yang jago menghitung. Dugaanku tepat, soal kali ini susahnya minta ampun. Hingga kertas ulanganku hampir tak terisi.

Namun kalau bahasa Inggris, inilah kehebatanku. Semua soal dapat kukerjakan dengan mudah. Karena sejak kecil aku sudah sangat hebat berbahasa Inggris. Seperti Om Frans dan Tante Siska yang semasa di Jakarta sangat menyayangiku jauh lebih besar dari orang tua kandungku. Namun kini mereka telah pindah ke Amerika dengan anaknya, Dimas.

Waktu seakan berjalan dengan sungguh cepat, kini saatnya pembagian hasil belajar siswa. Kebetulan, aku dan kak Dara, saudara kembarku berbeda kelas dan sekolah. Kalau aku masih berada dikelas satu SMA, sedangkan ia sudah berada dikelas dua.

Semua terjadi karena aku pernah tak naik kelas sewaktu di sekolah dasar. Kalau kak Dara sengaja Papa sekolahkah di sekolah terfavorit di Jakarta, sedangkan aku bersekolah di SMA yang di dalamnya hanyalah siswa buangan dari sekolah lain yang tidak menerima kami.

Karena nilaiku tak sehebat nilai kak Dara dan Kak Virgo, kakak tertuaku. Mereka memiliki IQ yang jauh lebih tinggi daripada aku.

“Pa, ambilin raport Dera ya.” pintaku.
“Papa sudah janji sama Dara kalau Papa yang akan mengambilkan raportnya. Kalian kan beda sekolah.” jawab ayahku.
“Ma, ambilin rapor Dera ya!” pintaku lagi pada Mama.
“Mama udah janji sama Virgo ngambilin raportnya, dia kan sudah kelas tiga jadi harus diwakilin.” jawab mama.
“Oh gitu ya.” balasku dengan kecewa.

Aku hanya bisa menangis sendirian di dalam kamar. Tidak ada satu orangpun yang mau mengambilkan rapor milikku. Jalan terakhir adalah bi Imah. Dan tentu saja ia sangat mau mengambilkan raporku.

“Gimana bi hasilnya?” tanyaku dengan penasaran
“Non Dera juara 1 non.” ucap bi Imah dengan semangat.
“Hah? Beneran Bi?” sahutku tak kalah semangat.

Ternyata usahaku tak sia-sia, akhirnya aku bisa menyamai prestasi kak Dara.

Setibanya di rumah, semua orang yang sedang tertawa ria melihat hasil belajar kak Dara dan kak Virgo menjadi terdiam disaat kedatanganku dan i Imah.
“Gimana hasilnya Ra?, pasti jelek.” ucap kak Virgo menyindirku.
“Gak ko, aku juara 1.” ucapku dengan semangat.
“aA, juara 1 di sekolahmu pasti juara terakhir dikelas Dara,” ledek ayah padaku.

Aku kecewa, benar-benar kecewa karena semua prestasi yang kuraih tak penah dihargai sama sekali. Dengan kecewa aku berlari menuju kamarku, kuratapi semua ketidakadilan ini. Aku tidak keluar kamar selama dua haripun tak ada yang peduli.

Semua orang di rumah hanya sibuk dengan pekerjaannya masing-masing, tak terkecuali bi Imah yang hampir setiap jam membujukku untuk keluar. Maagku kambuh, rasanya teramat perih dari yang biasanya.

“Oh Tuhan, kuatkan aku!” pintaku.

Di hari ketiga aksi diamku di kamar, tiba-tiba rumahku terdengar sebuah suara yang sangat kukenal. Ternyata hari ini, keluarga Om Frans sudah tiba di Jakarta untuk berlibur bersama keluarga kami.

“Dimas? Aku merindukanmu.” ucapku dengan tertunduk lesu di kamar.

Aku keluar kamar untuk menemuinya, namun ternyata ia sudah berubah dan tak peduli lagi padaku. Semuanya benar-benar berubah, dan kini janjinya ia ingkari untuk menemuiku. Penantianku sia-sia, semua orang telah membenciku dan menjauhiku.

Aku sendirian di rumah, bi Imah pulang kekampung karena anaknya sakit. Sedangkan yang lain sedang makan malam di hotel. Dan aku? Tertinggal di sini.

Aku hanya makan dan terus memasukkan roti berselai srikaya ke mulutku. Sedangkan yang lain asyik berbincang-bincang dengan topik kak Dara dan Dimas. Yang aku tahu, mereka terus membanggakan dua orang yang berprestasi tersebut.

Hingga Om Frans dan Tante Siska juga turut berubah padaku. Semua orang mengucilkanku di sini. Sesudah sarapan pagiku habis, aku segera pamit menuju taman belakang yang ternyata di sana ada kak Dara dan seseorang yang sangat aku sayangi, kak Dimas.

Di sana, aku sedang melihatnya memberikan setangkai mawar pada kak Dara. Ternyata mereka sudah jadian dan aku tahu, bahwa kak Dimas telah melupakanku.

Akhirnya, hari yang telah lama kunantikan tiba juga. Hari ini, pertandingan karateku akan berlangsung. Namun sayang, semua orang yang kusayang tak ada yang mau hadir di sini. Semuanya memilih hadir dilomba kak Dara, olimoiade sains.

Walau sedikit kecewa, akan kubuktikan bahwa aku adalah Dera yang hebat. Keinginanku terwujud, aku menang dan meraih juara satu dipertandingan karate nasional yang diadakan di Jakarta.

"Kita panggil, juara nasional karate tahun ini. Alderaya Zivanna dari Jakarta.” panggil pembawa acara, dengan diiringi tepuk tangan meriah, ku naiki podium kebesaranku, dan kurasakan aku sangat dihargai disini.

Setibanya di rumah, kuletakkan foto keberhasilanku di ruang tamu, namun di saat kedatangan kak Dara dan yang lainnya, kulihat kemurungan di sana. Dan setelah melihat foto keberhasilanku, kak Dara malah menangis dan berlari menuju kamarnya.

“Kamu sengaja meledek Dara?” tanya Papa dengan sinis.
“Gak pa! maksud Papa apa sih?” tanyaku tak mengerti.
“Dara kalah sedangkan kamu menyombongkan diri dengan memajang fotomu di ruang ini. Kamu tahu kan bahwa di ruang ini hanya foto-foto keberhasilan Dara yang boleh menempatinya.” jawab papa yang membuatku sangat kecewa.
“Lepas fotomu!” ucap mama dengan agak ketus padaku.

Kulepas foto yang sangat aku harapkan menjadi penghubung agar keluargaku menyanjungku. Sebuah harapan yang sejak dulu selalu ku inginkan. Karena aku selalu iri ketika kak Dara dipuji dan disanjung oleh papa dan mama, serta semua tamu yang pernah berkunjung ke rumahku. Sekarang pertanyaan terbesarku adalah, “Apakah aku anak kandungmu Ma? Pa?”

Pertanyaan yang tak pernah terjawab oleh lisan, namun terjawab oleh perbuatan mereka padaku. Seorang anak yang selalu tersingkirkan oleh ketidakadilan.

Hari demi hari terus berganti, dan semenjak itu pula kak Dara menjadi seseorang yang terpuruk. Aku bisa merasakan perasaannya yang tertekan karena ia kalah di olimpiade. Yang kutahu, saudara kembarku ini terlihat lemah dari yang biasanya.

“Udahlah kak, gak ada gunanya ditangisin terus.” ucapku menyemangati.
“Udahlah Ra, kamu senang kan ngeliat aku kaya gini? Kamu senang kan ngeliat aku kalah?” jawabnya dengan menangis.
“Gak kak, gak. Aku gak pernah ada niatan kaya gitu.” sahutku.
“Udahlah, pergi kamu dari kamarku, pergi…” ucapnya terpotong karena akhirnya ia terjatuh tepat di depanku.
“Pa, Ma, tolong kak Dara. Kak Dara pingsan Pa!” beritahuku
“Apa? Kamu apain sih dia?” tanya papa sinis padaku.
“Aku, aku gak ada ngapa-ngapain dia pa.” sahutku dengan menyembunyikan kesakitanku.
“Pasti penyakitnya kambuh lagi pa, ayo cepat kita bawa kerumah sakit.” ucapku pada Papa.

Hari ini tepat seminggu sebelum ulang tahunku dengan kak Dara. Aku takut kehilangannya, saudara kembarku yang sangat aku sayangi. Dokter bilang bahwa ginjalnya sudah benar-benar rusak. Yang aku tahu, kini ginjalnya hanya satu setelah setahun yang lalu satu ginjalnya sudah diangkat. Sedangkan aku masih mempunyai dua ginjal.

“Hanya saudara kembarnya yang ginjalnya cocok dengan Dara. Jadi usahakan dengan secepat mungkin diadakan pencangkokan ginjal Pak” beritahu dokter pada Papa.

Setelah itu, aku menjadi sasaran semua orang yang menyayangi kak Dara. Semuanya memintaku untuk mendonorkan satu ginjalku padanya. Niatku memang sudah bulat bahwa aku akan mendonorkan kedua ginjalku pada kak Dara, tapi aku tak ingin ada yang tahu semuanya.

Karena aku tidak mau mereka akan menyayangiku karena bersimpati denganku yang telah memberikan satu ginjal pada saudaraku. Aku hanya ingin kasih sayang tulus dari mereka, entahlah bagaimana caranya agar aku mendapatkannya.

“Ah sudahlah Dera, kamu memang saudara yang kejam. Hanya menyumbangkan satu ginjal saja tidak mau. Untunglah ada seseorang yang baik hati yang mau menyumbangkannya pada Dara,” ucap Papa
“Aku kecewa sama kamu Dera, tega ya kamu sama kakak kamu sendiri,” ucap Dimas dengan kecewa padaku.
“Siapa yang mendonorkan ginjalnya Pa?” tanya kak Virgo.
“Entahlah, pendonor itu tidak mau diberitahu namanya. Bahkan ia memberikan dua ginjalnya dengan gratis pada Dara. Dia benar-benar berhati malaikat,” jawab papa.

“Andaikan kalian tahu kalau itu aku? Apakah aku akan diberi penghargaan dari Papa?” gumamku dalam hati.

Beberapa jam sebelum operasi pencangkokan dilakukan, aku menulis sebuah surat untuk semua orang yang aku sayangi. Entahlah, aku merasa akan meninggalkan mereka semua. Rasanya, aku sudah sangat lelah dengan hidupku sendiri. Sesudah selesai ku tulis, surat itu kutitipkan pada bi Imah. Akupun berangkat menuju rumah sakit untuk segera menjalani operasi.

Ruang ini tersasa begitu menakutkan. Semua benda yang kulihat hanyalah jarum suntik dan gunting. Alat-alat yang terlihat menakutkan bagiku. Aku dibawa lebih dulu keruang ini, agar tidak ada yang tahu siapa aku sebenarnya. Posisiku dan kak Dara dipisahkan oleh dinding pembatas. Hingga akhirnya aku dibius, dan kurasakan semuanya gelap.

Seminggu kemudian!!!

“Akhirnya kamu sembuh juga sayang. Mama khawatir banget sama kamu sejak kamu dioperasi. Untung ada pendonor itu.” ucap mamanya dengan penuh kasih sayang.
“Dan Happy Brithday Dara…” ucap semua orang serentak
“Makasih ya semuanya. Aku senanggg banget. Oya, Dera mana ya Ma? Gak tau kenapa Dara kepikiran dia terus. Hari ini kan ulang tahun kami," sahut Dara.
“Iya ya? Mana dia Bi?” tanya Ibunya pada bi Imah
“Sebentar nyonya.” Jawab bi Imah dengan berlari menuju kamar Dera.

Dan beberapa menit kemudian sudah tiba dengan membawa sepucuk surat.

“Ini surat dari Non Dera sebelum pergim” beritahu bi Imah.

Walau agak heran, Ibunya pun membacanya dengan agak keras.

Untuk semua orang yang sangaaat Dera sayang.

Mungkin saat kalian baca surat ini ,Dera gak ada lagi di sini. Dera udah pergi ketempat yang saangaat jaauh. Oya, gimana kabar kak Dara? Gak sakit lagi kan? Semoga ginjalku dapat membantumu untuk meraih semua mimpi-mimpimu yang belum terwujud.

Teruntuk Papa yang sangat kurindukan
Gimana Pa? rumah kita udah tenang belum? Gak ada yang gak sopan lagi kan? Oh pasti gak ada dong ya? Ya iyalah, Dera si pembuat onar kan udah gak ada.

Teruntuk Mama yang sangat-sangat kurindukan juga
Ma, Dera pasti akan sangat rindu dengan teddy bear pemberian Mama lima tahun yang lalu. Ma, Dera kangeeen banget pelukan Mama. Dera selalu iri saat Mama hanya mencium kak Dara disaat ia tidur. Dera iri melihat Mama yang selalu menyemangati kak Dara disaat ia sedang sedih. Dera iri dengan semua perhatian yang Mama berikan pada kak Virgo dan kak Dara. Dera sangaat iri.

Teruntuk Kak Virgo dan juga saudara kembarku, Dara
Gimana kak, gak ada lagi kan yang ganggu kalian belajar? Gak ada lagi kan yang nyetel music keras-keras dikamar? Pasti rumah kita tenang ya, pastinya gak akan ada lagi yang akan membuat kalian malu karena punya saudara yang bodoh bukan? Oh, pastinya. Oya, Selamat ulang tahun ya Kak, selamat menjalani umur mu yang ke17 tahun yang mungkin takkan pernah aku rasakan.

Kalian semua harus tau, betapa aku sangat menyayangi kalian. Mungkin dengan kepergianku, semuanya akan tenang dan rumah kita menjadi tentram. Dera harap, gak akan ada lagi yang terkucilkan seperti Dera. Yang selalu menangis setiap malam. Yang selalu merindukan hangatnya kekeluargaan. Mungkin dengan kepergian ini, aku akan tahu bagaimana kalian akan mengenangku, seperti aku yang selalu mengenang kalian setiap malam dengan tangisan. . .

Semoga Kalian semua bahagia tanpa Dera, Aminn….
Salam rindu penuh tangis bahagia
Alderaya Zivanna

Semua yang mendengar menangis. Mereka bertanya-tanya pada bi Imah di mana Dera. Namun tiba-tiba telepon rumah berbunyi..

“Iya, saya Hermawan, ada apa ya?” tanya papanya dengan penasaran.

Dan sesaat kemudian Papanya menangis dan segera mengajak anggota keluarganya ke rumah sakit. Dan mereka terlambat, Dera telah pergi untuk selama-lamanya. Dan menginggalkan berjuta penyesalan disetiap tangis yang jatuh. Kini, ia telah tenang dan jauh dari ketidakadilan selama hidupnya. Walau air mata tengah menangisinya yang telah pergi untuk selama-lamanya.

Cerita di atas hanyalah karang belaka dan tidak berdasarkan fakta atau kejadian sesungguhnya. Cerita di atas dibuat hanya untuk sehiburan semata.
X