Pengalaman Kelam Korban Selamat Bom Atom Hiroshima

Dokumentasi serangan bom atom di Hiroshima (foto: japandeskscotland.com)

Hampir 70 tahun sejak bom atom pertama dijatuhkan di Hiroshima yang memakan ratusan ribu korban jiwa. Bagi mereka yang selamat, serangan nuklir itu bagaikan mimpi buruk yang selalu menghantuinya setiap waktu.

Walaupun sudah berpuluh-puluh tahun berlalu, banyak korban selamat yang masih sulit menceritakan pengalaman kelam mereka waktu itu. Kecuali nenek berusia 75 tahun bernama Hiroshi Harada yang bertekad menceritakan pengalaman kelamnya kepada generasi muda.

Harada adalah salah satu korban selamat dari serangan bom atom yang dijatuhkan oleh Amerika Serikat itu. Dia masih ingat ketika kakinya tenggelam ke dalam tumpukan mayat yang memblokir sebuah jalan sempit saat ia melarikan diri dari kobaran api yang membludak.

Dia menceritakan bahwa ada seorang gadis berusia 6 tahun yang meraihnya kala itu. Gadis kecil tersebut kemudian meminta air kepadanya.

"Yang selamat dari bom atom semakin tua dan lebih sedikit jumlahnya. Tapi jika tidak menyampaikan pengalaman yang satu ini benar-benar keterlaluan, maka tidak ada cara yang bisa dibagikan kepada banyak orang. Jadi saya pikir itu perlu untuk dilanjutkan, untuk tetap berbicara," ujar Harada, seperti dilansir Jamestown Sun, Senin (3/8/2015).

"Selama bumi masih ada, selama masih ada perang, selama penggunaan senjata nuklir masih menjadi pilihan, maka kita harus terus mewariskan pengalaman kami. Saya pikir itu nasib Hiroshima," tambahnya.

Korban selamat bom atom Hiroshima selalu menahan diri ketika mau menceritakan pengalaman kelam mereka, bahkan kepada anak-anaknya sendiri. Alasannya karena mereka menganggap pengalaman itu terlalu menyakitkan untuk diceritakan.

Salah satunya Makiko Kato (85), yang juga selamat dari ledakan bom atom itu tidak pernah sekalipun memberitahu anak-anaknya atau cucunya tentang pengalaman kelam kala itu.

"Tapi baru-baru ini saya mulai berpikir saya perlu memberitahu mereka karena pada usia ini, tidak ada jaminan bahwa saya akan hidup esok hari," ujar Kato.

Selain Kato, ada juga Fumiaki Kajiya (76), seorang mantan guru sekolah yang melukis untuk mengajari anak-anak tentang pengalamannya ketika bom atom itu dijatuhkan di Hiroshima.

Kajiya kehilangan adiknya dalam serangan tersebut. Sementara beberapa anggota keluarganya yang selamat selalu menangis selama berjam-jam di depan altar Buddha setiap tanggal 6 Agustus dalam rangka memperingati serangan mengerikan itu.

Dia menjelaskan bagaimana senjata nuklir dapat mengancam manusia dan ia juga berpendapat senjata nuklir tak seharusnya diciptakan ataupun digunakan. Kajiya ingin semua orang bercermin dari insiden yang terjadi di Hiroshima.

Pesawat bom AS menjatuhkan bom atom di Hiroshima pada 6 Agustus 1945, dan menewaskan 140.000 pada akhir tahun, serta memaksa 350.000 penduduk pindah dari kotanya.

Amerika Serikat kemudian menjatuhkan bom atom kedua di Nagasaki, tiga hari setelah Hiroshima atau tepatnya pada 9 Agustus 1945. Kemudian Jepang menyerah kepada sekutu pada tanggal 15 Agustus dan menjadi akhir dari Perang Dunia II.
X